Sabtu, 27 Januari 2024

The Beatitudes and the Seven Deadly Sins

Jika dalam posting yang lain saya menyimpulkan bahwa tujuh ucapan bahagia Yesus dalam the Beatitudes yang terdapat dalam Injil Matius 5:3-9 berhubungan erat dengan nubuat dalam Kitab Yesaya 61:1-2, Seven Laws of Noah, dan juga tujuh ayat dalam Surah Al Fatihah, maka sekarang terpikir oleh saya bahwa the Beatitudes juga terkait erat dengan dengan the Seven Deadly Sins, atau tujuh dosa mematikan yang dikenal dalam tradisi Kristen/Katolik.

Berikut daftar the Seven Deadly Sins berikut ucapan bahagia yang sesuai:

 

Seven Deadly Sins

Beatitudes

Gluttony

Blessed are the poor

Envy

Blessed are those who mourn

Pride

Blessed are those who are humble

Greed

Blessed are those who hunger and thirst for righteousness (justice)

Wrath

Blessed are the merciful

Lust

Blessed are the pure in heart

Sloth

Blessed are the peacemaker

 

Marilah kita merenungkan ucapan bahagia dalam the Beatitudes yang saya yakin merupakan inti dari ajaran Injil, sekaligus mematuhi the Seven Laws of Noah sambil menjauhi tujuh dosa mematikan yang ada.

 Q and A:

Q: Mengapa hanya ada 7 ucapan bahagia, bukannya 8 sesuai Matius 5:3-10?

A: Saya hanya mengambil Matius 5:3-9 dan "membuang" Matius 5:10 karena saya percaya bahwa Matius 5:10 pada hakikatnya sama saja dengan Matius 5:11, yaitu ucapan yang ditujukan untuk bangsa Yahudi saja, karena pada Matius 5:11 kata ganti (pronoun) yang digunakan adalah kamu (you), bukan mereka (they/them). Lagi pula berdasarkan catatan sejarah, satu-satunya bangsa yang sudah menjadi langganan untuk dipersekusi selama berabad-abad hanyalah bangsa Yahudi saja. Adapun bangsa-bangsa lain walaupun juga banyak yang diperkusi, namun mereka "hanya" diperkusi pada satu masa tertentu saja, tidak sampai berabad-abad lamanya, apalagi sampai bermilenium-milenium lamanya. Sedangkan bangsa Israel (termasuk Yahudi) sudah diperkusi selama 2500 tahun.


Q: Menurut Paus Gregory I, kebalikan dari Greed adalah Charity (lihat Seven Virtues dalam wikipedia). Kenapa Anda menuliskan kebalikan dari Greed adalah hunger and thirst for righteousness?

A: Justru apa yang saya tulis di atas sangat sesuai dengan apa yang ditulis oleh Pope Gregory I. Charity atau sedekah, dalam bahasa Ibraninya adalah Tzedakah, yang memiliki akar kata yang sama dengan kata shiddiq dalam bahasa Arab yang diterjemahkan sebagai righteous atau righteousness. Dengan demikian, charity atau sedekah adalah salah satu pengejawantahan dari hunger and thirst for righteousness.

Edited :
Versi lain:

Deadly Sins

Beatitudes

gluttony

poor

wrath

mourn

pride

humble

lust

pure in heart

greed

merciful

sloth

hunger and thirst for righteousness (or justice)

envy

peacemakers

Sabtu, 08 Juli 2023

Skenario Akhir Zaman

Dalam beberapa ceramahnya Ustadz Zulkifli Muhammad Ali senantiasa menyampaikan perkiraan beliau bahwa di akhir zaman kelak, teknologi modern umat manusia akan musnah, dan manusia akan kembali seperti ke zaman dulu. Sebagai contoh, manusia di masa yang akan datang, setelah perang dunia ketiga, akan kembali berperang seperti zaman dulu, yaitu menggunakan pedang dan tombak, atau bahkan menggunakan kayu dan batu. Namun, pada intinya adalah teknologi modern yang ada pada saat ini semuanya akan lenyap, termasuk hape, internet, komputer, telephone, televisi, dan lain sebagainya.

Bisa jadi Ustadz Zulkifli benar. Bahkan, saya pribadi mempunyai dugaan bahwa manusia di akhir zaman kelak akan mengalami kemunduran selama 3 abad, atau lebih tepatnya selama 300 tahun plus minus 9 tahun. Ini karena saya percaya bahwa kisah yang mirip seperti para pemuda Al Kahfi yang tertidur selama 300 tahun akan terulang kembali, namun yang terjadi justru kebalikannya. Jika para pemuda Al Kahfi tidur selama 300 tahun dan maju 3 abad kemudian, maka umat manusia di akhir zaman akan mengalami kemunduran selama kurang lebih 3 abad. Ilustrasinya, jika misalnya permulaan akhir zaman dimulai pada tahun 2033, maka pada tahun tersebut kehidupan manusia akan kembali seperti di tahun 1733 atau pada era sekitarnya. Kemunduran tersebut bisa saja terjadi karena adanya perang dunia ketiga yang akan menghancurkan teknologi modern, atau bisa saja terjadi karena adanya asap atau dukhan yang menyelimuti seluruh permukaan bumi dan menghancurkan berbagai penemuan baru serta teknologi modern yang ada, adanya gelombang EMP atau solar storm dari matahari, atau bencana bumi lainnya. 

Kalau seandainya manusia akan mengalami kemunduran zaman hingga tiga abad, maka umat manusia tentu akan kehilangan kenyamanan hidup yang selama ini dirasakan, termasuk radio, televisi, komputer, internet, dan hape. Namun ada dua hal yang paling mengganggu saya, karena saya baru sadar bahwa kedua penemuan tsb termasuk penemuan "baru" manusia dalam kurun 100-200 tahun yang lalu (padahal cut off-nya adalah 300 tahun yang lalu). Kedua penemuan tsb adalah listrik dan plastik. Terutama plastik.

Tanpa listrik kita akan mengalami kesulitan dalam penyediaan air bersih, kulkas, AC, water heater dan sebagainya. Namun saya merasa bahwa manusia masih bisa bertahan hidup tanpa listrik selama beberapa minggu atau beberapa bulan ke depan. Untuk mendapatkan air bersih misalnya kita masih bisa menimba sumur, mengambil air dari permukaan sungai atau mata air, atau menampung air hujan. 

Yang justru lebih repot adalah kalau kita kehilangan plastik. (Hampir semua perabotan yang kita miliki mengandung bahan plastik. Berdasarkan browsing dari google, plastik diciptakan sekitar tahun 1907, sedangkan acrylic pada tahun 1843). Artinya kalau plastik benar-benar hilang dari muka bumi (karena adanya keajaiban seperti dukhan atau yang lainnya), maka berarti umat manusia akan kehilangan sebagian besar perabot yang dimilikinya seperti gayung, ember, botol air, tupperware, dan berbagai peralatan lain. Bagaimana mungkin kita bisa menimba air dari sumur kalau kita tidak menggunakan ember? Bagaimana mungkin kita bisa menyimpan minuman kalau tidak ada lagi botol plastik yang bisa digunakan untuk menyimpan minuman? Bagaimana mungkin kita bisa menampung air hujan kalau tidak ada ember plastik? Dan masih banyak kesulitan hidup yang akan kita hadapi jika seandainya misalnya suatu saat nanti kita akan kehilangan plastik dalam sehari.

Bagaimana solusinya?

tentunya untuk berjaga-jaga kita mesti menyediakan wadah yang berbahan non-plastik, seperti gayung dari kopra atau batok kelapa, ember kayu (kalau memang ada), makanan kalengan, minuman yang tersimpan dalam botol kaca, dan lain sebagainya.

Dan juga saya pribadi menyimpan sebagian emas dan perak saya dalam buku, dan/atau dalam kotak kardus kecil. Untuk emas batangan dimungkinkan kalau Anda memiliki emas antam versi retro, karena emas bisa langsung dikeluarkan dari plastik mikanya tanpa merusak apapun. Dan yang saya lakukan adalah saya akan mengeluarkan emas batangan retro dari plastik mika, dan kemudian emas beserta sertifikat kertasnya saya pindahkan ke dalam buku atau kotak kardus kecil yang berbahan non-plastik. Just in case

wa Allahu a'lam.


Sabtu, 03 Desember 2022

Euforia Arab Saudi

Pada babak penyisihan piala dunia 2022 pada tanggal 22 November 2022 yang lalu, tim Arab Saudi secara mengejutkan berhasil menumbangkan kesebelasan Argentina yang merupakan salah satu favorit juara. Terjadi euforia pada negara Arab Saudi, hingga Raja Salman mengumumkan libur pada esok harinya. Bahkan terdapat kabar bahwa seluruh pemain kesebelasan Arab Saudi akan diberi hadiah berupa mobil mewah roll royce.

Namun apa yang terjadi kemudian? Arab Saudi kalah dua kali berturut-turut, sehingga Arab Saudi gagal melaju ke babak berikutnya. 

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari euforia sesaat kesebelasan Arab Saudi? Tentu saja, kita tidak boleh merasa bangga atau jumawa jika kita berhasil dalam suatu hal. Jika seandainya kita berhasil dalam satu hal, hal tersebut tidak menjamin bahwa kita akan sukses juga dalam hal yang lain.

Euforia Arab Saudi mengingatkan saya kepada sikap umat Islam. Kalau saya perhatikan, banyak umat muslim yang merasa bangga dengan agamanya sendiri, atau lebih parah lagi, mereka bangga pada alirannya sendiri, seraya meremehkan agama atau aliran lain. 

Sebagai analogi, misalnya tim Arab Saudi saya contohkan merepresentasikan umat Islam Ahli Sunnah wal Jama'ah. Sementara tim Argentina merepresentasikan umat Katolik. Kita, umat Islam, merasa bangga bahwa kita adalah umat pilihan Tuhan, sedangkan kita menganggap bahwa umat Katolik itu sesat dan kafir. Sehingga sebagian dari kita sudah berani untuk memvonis bahwa kita akan masuk surga, sementara umat Katolik akan masuk neraka. Nah, disinilah masalahnya. Masalahnya, tauhid atau hablum minallah itu bukanlah satu-satunya tolok ukur untuk masuk surga. Selain hablum minallah masih ada hablum minannas. Jika kita merasa berhasil dalam hablum minallah (walaupun pada kenyataannya ibadah kita selama ini belum tentu diterima Allah), belum tentu kita akan berhasil juga dalam hablum minannas. Malah, kalau boleh saya katakan, sepertinya kalau soal urusan hablum minannas, nampaknya rata-rata umat Islam masih kalah jika dibandingkan dengan umat Katolik atau umat Kristen. Jadi, boleh jadi pada akhirnya skor akhir antara umat Muslim dibandingkan umat Katolik, akan berimbang, atau jangan-jangan malah dimenangkan oleh umat Katolik (God forbid). Oleh karena itu, seyogyanya setiap insan muslim harus mengikis habis sikap sombong dan jumawa yang ada di dalam hatinya, dan jangan sampai kita meremehkan umat lain yang kita anggap sesat.

Kembali ke piala dunia, ternyata Arab Saudi gagal melaju ke babak berikutnya. Sedangkan Argentina justru berhasil melangkah ke babak berikutnya. Saya tidak akan heran jika seandainya Agerntina akan berhasil masuk ke babak perempat final, atau babak semifinal piala dunia 2022.

Kamis, 03 November 2022

Menafsirkan Kitab Itu (Dzalikal kitaabu)

"Kitab itu tidak ada keraguan, petunjuk bagi orang-orang yang takut (God-fearers)" (QS 2:2) 

Kata "kitab itu" atau dzalikal kitaabu sering diartikan oleh mayoritas muslim sebagai "kitab ini" (yakni Al Quran). Demikian pendapat mayoritas.

Namun benarkah pendapat tersebut? Ternyata, jika kita membaca kitab Tafsir Thabari atau Tafsir Qurthubi, itu bukanlah satu-satunya pendapat. Ini karena pada dasarnya kata dzalika (itu) menunjukkan sesuatu yang ghaib atau yang tidak ada di hadapan. Atau mengisyaratkan sesuatu yang jauh dan tidak tampak. 

Dalam tafsir Thabari maupun Qurthubi terdapat dua pendapat yang menurut saya sama-sama masuk akal, dimana penafsiran tersebut tetap mengartikan kata dzalika sebagaimana makna literalnya.

Pertama, yang dimaksud "kitab itu" adalah surat-surat Al Quran yang diturunkan sebelum surat Al Baqarah, alias seluruh surat Makkiyah.

Kedua, yang dimaksud "kitab itu" adalah kitab Taurat dan Injil. Namun, kalau yang dimaksud Taurat dan Injil, kenapa disebut dalam bentuk tunggal? Bisa saja, menurut suatu pendapat (Qurthubi), sama ketika Al Quran menyatakan, "sapi betina tersebut tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu" (QS 2:68). Jika dicermati, kata yang digunakan adalah baina dzalik (antara itu/dalam bentuk tunggal), bukan bainahuma (antara keduanya).

Jika demikian, maka saya berpendapat bahwa bisa saja yang dimaksud dengan "kitab itu" adalah kitab Injil, karena redaksi yang digunakan mirip dengan apa yang ada pada QS 5:46. Atau bisa jadi yang dimaksud "kitab itu" adalah surat-surat yang diturunkan di Mekkah (Makkiyah). Dan ini seperti yang pernah dikemukakan oleh ulama asal Sudah Muhammad Thaha dan An Naim, yang kurang lebih menyatakan bahwa surat-surat Makkiyah berlaku universal dan adil, sehingga surat-surat Makkiyah lebih tepat untuk diterapkan di zaman modern ini ketimbang surat-surat Madaniyah.

Atau bisa jadi, yang dimaksud dengan "kitab itu" adalah keduanya sekaligus, yakni kitab Injil dan juga Al Quran surat-surat Makkiyah. Ini sebagaimana kata dzalika dalam Al Baqarah 68 sebagaimana penafsiran Imam Qurthubi, yang bisa dimaksudkan untuk dua hal sekaligus. Ini karena baik kitab Injil maupun surat-surat Makkiyah dari Al Quran sama-sama bersifat universal, tidak seperti Taurat yang khusus diturunkan untuk bani Israel, maupun surat-surat yang diturunkan di Madinah yang sangat terikat oleh ruang dan waktu.

Wa Allahu a'lam

Jumat, 28 Oktober 2022

Keistimewaan Kitab Injil dan Nabi Isa bin Maryam

Mengapa belasan tahun belakangan ini saya tertarik dengan Kitab Injil dan Nabi Isa, sehingga saya mencoba untuk mengidentifikasi kitab apakah sebenarnya yang dimaksud dengan kitab Injil tsb? (Spoiler alert: setelah sekian tahun saya membaca sejumlah buku dan sejumlah tulisan, saya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan kitab Injil tsb adalah Injil Lukas, atau Injil ketiga dalam Perjanjian Baru).

Berikut ini beberapa alasan keistimewaan Nabi Isa bin Maryam dan/atau Kitab Injil.

1. Allah sudah menjanjikan di dalam Al Quran surat Al Imran 55 bahwa Allah akan menjadikan para pengikut Nabi Isa di atas orang-orang kafir hingga hari kiamat. Para pengikut Nabi Isa tentulah adalah Ahli Injil yang disebut dalam Al Maaidah 47.

2. Pada ayat lain, Al Quran menyatakan bahwa tidak ada seorangpun Ahli Kitab kecuali ia akan beriman kepada Nabi Isa bin Maryam (QS 4:159). Ayat ini dan ayat QS 3:55 di atas merupakan indikasi akan datangnya Nabi Isa kembali ke dunia menjelang hari akhir (the second coming of Jesus). Untuk mengantisipasi kedatangan kembali Nabi Isa bin Maryam, maka alangkah baiknya jika kita mempelajari kitab yang diturunkan kepada beliau (Injil). Hal ini antara lain agar dengan mempelajari Injil kita dapat langsung mengenali Nabi Isa ketika beliau datang kepada kita, dan kita bisa langsung "tune in" atau se-frekuensi dengan beliau.

3. Intisari dari ajaran seluruh kitab suci sebelum Injil mulai dari Taurat sampai dengan kitab Nabi-Nabi (Nevi'im) sudah terkandung di dalam kitab Injil. Di dalam Injil Sinoptik, Yesus pernah ditanya mengenai Hukum yang Terutama dalam kitab Taurat: Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?". Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum kedua yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan Kitab Para Nabi (Mat 22: 35-40)." Referensi lain ada di kitab Lukas 10:26-27. Dengan mempelajari kitab Injil otomatis kita bisa memahami pokok-pokok ajaran Kitab Taurat dan Kitab Nabi-Nabi (Nevi'im). [Catatan: selama ini umat Islam hanya fokus pada Kalimat Tauhid, Laa ilaaha illallah. Walaupun tidak ada yang salah dengan hal ini, namun terkadang kita terlena dengan hukum kedua yang juga penting. Kita malah sering menghakimi orang lain, dan kita enggan untuk membantu orang miskin di sekitar kita yang sedang kesusahan. Kita berpikir bahwa asalkan kita sudah sholat, membayar zakat, dan puasa, maka kita akan aman-aman saja. Maka seolah-olah kita tidak merasa berdosa ketika kita menghakimi orang lain. Na'udzu billahi min dzalik]

4. Kitab Injil inilah yang saya duga merupakan kitab suci yang diwariskan kepada orang-orang pilihan (hanya kepada orang-orang tertentu saja) sebagaimana dimaksud di dalam surat Fathir ayat 32:  "Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar."

Dalam tafsir Thabari ia berpendapat bahwa ayat QS 35:32 ini merujuk kepada kitab-kitab suci sebelum Al Quran. Namun, sebagaimana tersebut dalam poin di atas, pokok-pokok ajaran kitab Taurat dan Kitab Nabi-nabi sudah terkandung di dalam Injil maka kitab Injil merupakan kandidat terbaik sebagai kitab (dalam bentuk tunggal) yang diwariskan kepada orang-orang terpilih. Selain itu, ayat di atas kurang cocok untuk diterapkan pada Kitab Taurat, karena kitab Taurat itu diwariskan hanya kepada bani Israel. Sedangkan kitab Injil diturunkan untuk seluruh umat manusia (ref Mark 13:10, Mark 16:15, dan Mat 24:14).

Namun, jangan salah. Kitab Injil yang saya maksud adalah Injil Lukas, bukan seluruh Injil yang ada di dalam Perjanjian Baru. Oleh karena itu dalam surat Fathir 32 tersebut dituliskan bahwa Kitab itu diwariskan kepada orang-orang yang Kami pilih. Artinya bukan kepada semua orang. Kita tahu bahwa pemahaman mayoritas orang Kristen sudah terkontaminasi oleh doktrin sesat trinitas, sehingga injil Lukas ini sering terlewatkan (overlooked) oleh orang Kristen. Atau walaupun orang Kristen memiliki Injil Lukas, namun orang Kristen memahami Injil Lukas dengan pemahaman yang salah, sehingga walaupun mereka membacanya boleh jadi mereka tidak memahami maksud sebenarnya. Jadi walaupun seseorang membaca Injil Lukas, belum tentu ia bisa memahami ajaran Yesus yang sebenarnya, karena di dalam pikirannya sudah terkontaminasi oleh doktrin-doktrin sesat yang berasal dari ajaran manusia.

Semoga kita umat Islam termasuk hamba-hamba-Nya yang terpilih untuk mewarisi Kitab Suci yang dimaksud dalam QS 35:32 tersebut, Amen.

5. Ayat serupa di atas juga terdapat dalam Injil Thomas pasal 109, dimana diriwayatkan sebuah perumpamaan (parable) tentang seorang ahli waris yang tidak memahami betapa berharganya warisan yang diterimanya. Kemudian si ahli waris ini menjual warisan tsb kepada orang lain dengan harga yang sangat murah. Pembeli warisan tersebut mengetahui betapa berharganya warisan yang dibelinya tersebut, sehingga si pembeli warisan mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari transaksi jual-beli ini. Hal ini mengindikasikan bahwa hanya orang-orang terpilih saja yang bisa mengenali betapa berharganya harta yang terkandung dalam warisan tersebut. Maka warisan tersebut akan cocok jika diinterpretasikan sebagai kitab Injil. Karena orang-orang Israel sebagai ahli waris seharusnya dari Kitab Injil malah tidak dapat mengenali kebenaran dari ajaran Nabi Isa dan Kitab Injil, sehingga kemudian kitab Injil tersebut dilimpahkan kepada "bangsa lain yang akan menghasilkan buah kerajaan tersebut". Demikian juga orang-orang Kristen yang memiliki kitab Injil ini, bisa jadi mereka salah fokus terhadap kitab Injil. Alih-alih berfokus pada Injil Lukas dan/atau Injil Matius [atau Double Tradition], mereka malah fokus kepada kitab buatan manusia seperti Injil Yohanes dan surat-surat Paulus. Sehingga kebanyakan mereka sama seperti bangsa Israel yang gagal memahami ajaran sebenarnya yang terkandung dalam kitab Injil yang asli. Hal ini sebagaimana terindikasi di dalam Injil Lukas 13:24-27 dan juga Injil Matius 7:21-23.

6. Dalam QS 2:2 disebutkan bahwa "kitab itu tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang takut". Pertama frase "orang-orang yang takut" atau kalau dalam bahasa Inggrisnya God-fearers atau God fearing people, mengingatkan saya kepada kaum the Noahides atau bnei Noach. Sedangkan frase "Kitab itu" (bukan kitab ini) seolah merujuk kepada suatu kitab yang bukan kitab Al Quran. Apalagi di dalam QS 5:46 jelas tertulis bahwa kitab injil merupakan petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang takut tersebut. Sehingga saya mendapatkan kesan bahwa yang dimaksud sebagai "kitab itu" di dalam QS 2:2 adalah kitab Injil.

7. Di dalam tafsir Qurthubi surat Al Imran ayat 3 terdapat riwayat yang menyatakan bahwa akan terdapat umat akhir zaman yang menghafal Injil. Dan dikatakan bahwa umat tersebut adalah umat Nabi Muhammad SAW. Jadi, boleh jadi umat Nabi Muhammad di akhir zaman akan berpegang pada dua kitab sekaligus, yakni Al Quran dan Injil. Ini seperti yang diindikasikan dalam QS 28:49, bahwa terdapat dua kitab yang memberikan petunjuk. Kemungkinan, kedua kitab yang dimaksud adalah Injil dan Al Quran.

8. Dalam salah sebuah hadits sahih disebutkan suatu kalimat syahadat yang istimewa yang terdiri dari 3 kalimat syahadat sekaligus, yakni (1) bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, (2) bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya, dan (3) bahwa Isa adalah hamba Allah, rasul-Nya, Kalimat-Nya yang ditiupkan pada Maryam, dan Ruh dari-Nya. Ini mengindikasikan bahwa nabi yang diutus untuk kita bukan hanya Nabi Muhammad saja, melainkan Nabi Muhammad dan Nabi Isa. Apalagi dalam hadits lain diriwayatkan bahwa kelak Nabi Isa akan menjadi pemimpin/imam bagi umat Islam. Haditsnya kira-kira berbunyi, "Bagaimana pendapatmu jika Isa bin Maryam turun ditengah-tengah kalian dan menjadi imam bagi kalian?"

9. Ajaran Injil Lukas tentang kecaman bagi orang-orang kaya yang mengumpulkan harta dan hidup mewah, in-line dengan ajaran Al Quran, terutama dalam surat-surat Makkiyah yang diturunkan pada awal masa kenabian Muhammad seperti surat At Takatsur, Al Humazah,  Al Aadiyat, Al Ma'un, Al Lahab, Al Fajr, Al Lail,  Hud 116, Al Isra 16, Al Mukminun 33, Al Waqiah 45, dan lain sebagainya. 

Demikianlah, mengapa saya percaya bahwa sudah seyogyanya umat Islam membaca dan mempelajari kitab Injil, khususnya Injil Lukas atau the Gospel of Luke

Wa Allahu a'lam 



Selasa, 25 Oktober 2022

Adakah Replacement Theology?

Semua pemeluk agama samawi mungkin sepakat bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang dipilih oleh Tuhan. Or at least they were the chosen people. Namun, karena bangsa Israel berulang kali melakukan kesalahan fatal, seperti misalnya membunuh nabi-nabi, maka kemudian Tuhan memutuskan untuk mengganti bangsa Israel dengan "bangsa lain yang akan menghasilkan buah kerajaan". Konsep ini dikenal dengan istilah replacement theology.

Mayoritas orang Kristen percaya dengan replacement theology. Menurut mereka, keistimewaan bangsa Israel sebagai umat pilihan Tuhan telah digantikan oleh Gereja. Demikian juga dengan mayoritas muslim. Mayoritas muslim percaya bahwa agama Islam menggantikan agama Yahudi serta agama Kristen sebagai satu-satunya agama yang benar. Mayoritas muslim percaya bahwa Al Quran me-nasakh hukum-hukum yang terdapat dalam kitab suci sebelumnya. Namun, apakah replacement theology itu benar adanya?

Berdasarkan ayat Injil Sinoptik (Synoptic Gospels) yang saya imani, saya percaya bahwa replacement theology itu memang ada. Ayatnya terdapat pada Injil Matius 21:43 sbb: "Sebab itu aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu". Atau kalau menurut versi Lukas, bahwa "tuan kebun anggur akan membinasakan penggarap-penggarap lama, dan akan mempercayakan kebun anggur itu kepada orang lain" (God forbid). Namun saya percaya bahwa replacement ini hanya temporer atau sementara. Bukan untuk selamanya. Maksud saya temporer di sini bukan berarti seabad atau dua abad, tapi boleh jadi berabad-abad (20 abad?). Dan replacement atau penggantian bangsa Israel sebagai umat pilihan Tuhan ini terjadi sebanyak dua kali. Ini kurang lebih serupa dengan nubuat dalam surah Al Isra ayat 4-6 bahwa bangsa Israel berbuat kerusakan sebanyak dua kali, dan akibatnya mereka akan dihukum sebanyak dua kali pula. Saya memiliki dugaan liar bahwa dua hukuman tersebut adalah dua kali replacement atau penggantian, dimana umat Israel beserta kitab sucinya Tanakh (Taurat, Nevi'im, Ketuvim) akan digantikan oleh Injil (the Gospel) dan kitab Perjanjian Baru pada umumnya, serta oleh Al Quran.

Replacement atau penggantian pertama terjadi pada abad pertama masehi, yaitu ketika orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihan digantikan oleh orang-orang Kristen atau Ahli Injil. Kitab Injil pada awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani atau mungkin juga dalam bahasa Aramaic. Itu karena Yesus Kristus berbicara kepada kaumnya dengan bahasa Ibrani atau Aramaic. Namun, naskah injil tertua yang bisa ditemukan adalah naskah injil yang berbahasa Yunani (Koine Greek). Mengapa bisa demikian? Saya menduga karena replacement theology tersebut, yaitu naskah injil asli yang berbahasa Ibrani (Hebrew Gospel/Injil Ebionites/Injil Nazarenes atau matthaaei authenticum?) menghilang dari dunia dan digantikan oleh naskah injil yang berbahasa Yunani. Replacement tahap pertama ini saya duga terjadi selama beberapa abad, yaitu mulai dari abad pertama sampai dengan sekitar abad kelima masehi atau hingga abad ketujuh masehi. Saya membayangkan bahwa pada saat itu kitab Injil merupakan kitab suci yang paling banyak dibaca oleh orang beriman. Orang-orang Kristen perdana pada masa dahulu (umat Nasrani) saya bayangkan hanya fokus pada kitab Injil dan beberapa surat dalam Perjanjian Baru (seperti surat Yakobus/the Epistle of James), bukan pada Perjanjian Lama. Saya membayangkan, pada masa itu orang-orang Kristen merupakan umat terbaik pada masanya (khaira ummah). Buktinya, pada awal kenabian Muhammad, sebagian umat muslim berhijrah ke Ethiopia dan meminta perlindungan kepada orang Nasrani (Ahli Injil). Bahkan di dalam Quran disebutkan bahwa orang Nasrani merupakan sahabat terdekat bagi umat Islam (QS 5:82). 

Namun, keistimewaan orang Kristen/Nasrani berangsur pudar mulai abad ke-4 Masehi dst, khususnya ketika orang Kristen mulai memformulasikan doktrin trinitas sebagai dogma gereja. Dengan masuknya doktrin sesat trinitas ke dalam tubuh agama Kristen maka orang Kristen mulai kehilangan statusnya sebagai umat terbaik. Pada saat yang hampir bersamaan, pada saat itu pula orang kristen mulai memformulakan kanon Alkitab mereka dan mulai secara resmi memasukkan kitab Tanakh (Perjanjian Lama) ke dalam kanon Alkitab. Dengan masuknya kitab Tanakh ke dalam kanon Alkitab orang Kristen, maka secara tidak langsung kitab Tanakh kembali populer dan kembali menjadi kitab suci paling banyak dibaca oleh orang beriman. Ini yang saya anggap sebagai penggenapan dari nubuat yang ada di dalam Al Isra ayat 6 yang menyatakan bahwa umat Yahudi akan mengalahkan umat yang telah mengalahkan mereka dan umat Yahudi kembali menjadi golongan yang lebih besar dari sebelumnya. Ini dengan asumsi bahwa orang Kristen pasti membaca kitab Taurat (setidaknya awal Kitab Kejadian), kitab Nabi-nabi (Nevi'im), serta kitab Mazmur/Ketubim (Mazmur 23 adalah salah satu pasal paling terkenal di dunia). Sementara orang Yahudi tidak membaca Injil. Itulah sebabnya kenapa sejak saat itu kitab Tanakh kembali menjadi kitab suci paling banyak dibaca oleh orang beriman. Selain itu, dari segi akidah/teologi, agama Yahudi (Judaisme) mengungguli agama Kristen. Ini karena agama Kristen mengadopsi doktrin trinitas yang sesat, sedangkan agama Yahudi, sebagaimana agama Islam, menolak doktrin trinitas. Mungkin inilah yang dimaksud dengan "Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka ...."  dalam surah Al Isra ayat 6.

Replacement tahap kedua dimulai pada abad ke-7 Masehi, yaitu ketika Nabi Muhammad diutus sebagai Rasulullah. Sejak saat itu Al Quran menjadi kitab suci bagi kaum ummi/bangsa gentiles. Dan umat mukmin pada saat itu menjadi umat terbaik di masanya (khaira ummah), menggantikan umat Yahudi sekaligus umat Nasrani. Pada saat itu umat Islam menjadi umat terbaik di muka bumi (khaira ummat).

Namun apakah replacement kedua ini akan berlangsung untuk selamanya? Apakah umat Islam akan selalu menjadi yang terbaik dan tak tergantikan sampai akhir zaman? Mungkin tidak. Surah Muhammad ayat terakhir menyatakan bahwa bisa saja Allah menggantikan kaum mukmin dengan kaum yang lain (QS 47:38). Dan mungkin memang seperti itu. Pada akhirnya nanti barangkali bangsa Israel akan kembali menjadi bangsa terpilih atau umat terbaik. Ini sebagai penggenapan sejumlah nubuat dalam Kitab Nabi-Nabi seperti Yesaya, Yehezkiel, Mikha, Zakharia, Malachi, dll yang sampai saat ini belum tergenapi. In the meantime, marilah kita membaca dan mempelajari dua kitab suci yang ditujukan untuk seluruh umat manusia, dan ditulis dalam bahasa gentiles/ummi/non-Ibrani, yakni Injil Lukas (atau Injil Q?) dan Al Quran. Kenapa dua kitab ini, Injil dan Al Quran? Karena saya percaya bahwa dua kitab inilah yang diturunkan untuk seluruh manusia di bumi ini, baik bangsa Israel maupun bangsa gentiles.

Wa Allahu a'lam.

Senin, 24 Oktober 2022

Akan tetapi katakanlah "Kami telah berserah diri"

Di dalam surah Al Hujurat ayat 14 dikisahkan bahwa ada sekelompok orang Arab Badui yang berkata kepada Nabi bahwa mereka telah beriman (Aamanna). Namun dalam ayat tsb, Allah menyuruh Nabi untuk mengatakan kepada mereka "Kamu belum beriman, akan tetapi katakanlah 'Kami telah berserah diri' (Aslamna)". Dalam ayat ini dapat ditangkap bahwa terdapat perbedaan derajat antara orang-orang yang beriman (mukmin) dengan orang-orang yang berserah diri (muslim).

Saya pribadi merasa bahwa tingkatan saya belum mencapai beriman (Aamanna) melainkan masih sebatas berserah diri (Aslamna). Salah satu indikatornya adalah saya merasa belum memenuhi karakteristik orang-orang yang beriman sebagaimana digambarkan dalam surah Al Anfal ayat 2.

Lalu, apakah keselamatan itu hanya untuk orang-orang beriman saja? Saya rasa tidak. Al Quran surah Al Baqarah ayat 62 dan Al Maaidah ayat 69 secara gamblang menjelaskan bahwa keselamatan itu bukan hanya hak istimewa orang-orang beriman (pengikut syariat Nabi Muhammad) melainkan juga terbuka bagi orang-orang Yahudi, sabian (the convert?), dan juga orang-orang Nasrani yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir dan juga melakukan amal sholeh.

Kemudian, apakah syariat untuk orang-orang beriman sama dengan syariat untuk orang-orang yang tunduk atau berserah diri dalam arti luas? Saya rasa tidak. Syariat untuk orang-orang beriman jelas merupakan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad (misalnya shalat 5 waktu dengan menggunakan bahasa Arab yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, puasa pada bulan Ramadhan, dan sebagainya). Namun, kita semua tahu bahwa Nabi-nabi terdahulu seperti Abraham, Ishak, Yakub, Musa, dan Isa, tidak mungkin melakukan sholat sebagaimana Nabi Muhammad shalat. Bahasa yang digunakan saja sudah berbeda. Bahkan nama atau sebutan untuk Tuhan pun kemungkinan besar juga berbeda. Abraham  misalnya, kemungkinan menyebut nama Tuhannya dengan sebutan El Eliyon atau El Shaddai, bukan dengan nama Allah sebagaimana lafadz orang-orang Arab. Dengan demikian tata cara beribadah Abraham kemungkinan besar berbeda dengan tata cara ibadah Nabi Muhammad, paling tidak berbeda dari bahasa yang digunakannya. Nah, karena tadi sudah dijelaskan bahwa orang beriman (mukmin) berbeda dengan orang berserah (muslim) maka semestinya syariat-nya pun tidak harus sama.

Adakah minimum requirements bagi seorang muslim? Semestinya ada. Imho, syarat minimal bagi seorang muslim adalah menjalankan perintah Kitab Suci yang ditujukan bagi seluruh manusia, bukan hanya untuk golongan tertentu saja. Kalau di dalam Quran misalnya ayat-ayat yang diawali dengan "Yaa ayyuhan nas" atau "wahai manusia" tang kebanyakan merupakan ayat makkiyyah, walaupun ada juga yang merupakan ayat madaniyyah seperti yang ada di dalan surah Al Baqarah.

Sedangkan ayat-ayat yang diawali dengan "Yaa ayyuhalladzina aamanu" imho hanya mengikat kepada orang-orang beriman (mukmin) akan tetapi tidak mesti mengikat kepada orang-orang muslim. Wa Allahu a'lam

Senin, 02 Mei 2022

Review Komik Thor God of Thunder vs Gorr the God Butcher

Sejak menyaksikan trailer film Thor Love and Thunder, saya jadi penasaran dengan komik Thor: God of Thunder karya Jason Aaron. Terutama ketika melihat scene atau adegan di trailer yang memperlihatkan "dewa" Falligar The Behemoth yang sudah jadi bangkai, yang sangat mirip dengan penggambaran di komik. 


Oleh karena itu saya memesan komik Thor: God of Thunder dari amazon. Berikut ini merupakan review saya thd komik Thor: God of Thunder karya Jason Aaron.

Pertama, kesan saya membaca komik ini adalah nuansanya agak gelap, seperti komik DC. Yang jelas nuansanya berbeda dengan komik Thor karya penulis lain seperti misalnya Walter Simonson dalam Thor #337 dst (yang memperkenalkan Beta Ray Bill). Saya pribadi lebih suka nuansa ala Walter Simonson yang cerah.



Kedua, ceritanya menurut saya agak membingungkan, karena cerita berlompat-lompat dari abad ke abad. Jadi ada tiga versi Thor di komik ini, yakni Thor versi muda (893AD), Thor masa kini, dan Thor masa depan yang sudah tua. Dan ketiga Thor ini pada akhirnya bersatu melawan Gorr the God Butcher. Anehnya, si Gorr ini hanya ada satu saja, bukan tiga versi. Dari dua poin ini saja saya enggan memberikan rating lima bintang untuk komik ini. (Tadinya saya mau memberikan rating 3 untuk komik ini)

Kalau dibandingkan dengan membaca komik Gundala Godam seperti Bocah Atlantis, Robot Penakluk, Bernafas Dalam Lumpur, Gundala Cuci Nama, dll maka saya lebih menikmati membaca komik Gundala Godam ketimbang komik Thor ini.

Namun, yang paling menarik bagi saya dari komik Thor ini adalah motif atau latar belakang kenapa Gorr the God Butcher bisa begitu dendam kepada para dewa (atau tuhan). Jadi ceritanya si Gorr ini menjadi dendam kepada para dewa karena dia sering berdoa kepada para dewa, namun dewanya tsb tidak pernah mendengarkan doa si Gorr, bahkan di saat Gorr sangat membutuhkan pertolongan para dewa. Karena doanya yang tidak pernah didengar para dewa tsb itulah makanya si Gorr berubah menjadi "atheis" dan bahkan membenci para dewa, dan ingin membunuh para dewa satu per satu. And he did.

Menurut saya pribadi, motif Gorr ini sangat relate dengan pengalaman sebagian orang yang "kecewa" kepada Tuhan. Saya ingat beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah berita mengenai seorang vokalis grup band rohani Kristen yang kemudian berubah menjadi atheis karena doanya tidak dikabulkan Tuhan, dan juga karena pergulatan batin ybs, seperti misalnya kenapa ada penyakit, perang, kejahatan, penderitaan, dsb. Nah, in my opinion kasus si penyanyi tsb cukup mirip dengan kasus si Gorr, dimana keduanya sama-sama kecewa kepada Tuhan, if He exists. Kalau Tuhan memang ada, kenapa Tuhan tidak menjawab doa makhluknya di saat si makhluk sangat membutuhkan pertolongan Tuhan. 

Karena motif dari si Gorr yang menarik inilah saya memberikan rating 4 untuk komik God of Thunder ini. 

Btw: ketika review ini saya tulis (3 Mei 2022), baru ada satu trailer film Thor: Love and Thunder. Dan film Doctor Strange Multiverse of Madness belum diputar di bioskop. Sehingga info mengenai film Thor #4 ini masih sangat sedikit. Tapi saya berharap di film Thor ini nantinya ketika Thor melawan Gorr the God Butcher, alih-alih ada tiga versi Thor (Thor muda, Thor sekarang, dan Thor tua), saya berharap yang melawan Gorr ini bukan tiga versi Thor yang sama seperti di komik melainkan tiga "thor" yang berlainan, yakni Thor asli, Thor Jane Foster, dan ... Beta Ray Bill. Dalam komiknya, Beta Ray Bill digambarkan memiliki kesaktian yang sama dengan Thor, kalau tidak mau dibilang Beta Ray Bill lebih sakti daripada Thor. Lagi pula kan senjatanya Beta Ray Bill (Strombreaker) sudah muncul sejak film Avengers: Infinity War, tinggal menunggu pemilik asli Strombreaker yang belum muncul.



Minggu, 19 Desember 2021

The best (generation) is yet to come

 Banyak muslim yang percaya bahwa generasi manusia terbaik adalah generasi Nabi Muhammad beserta para sahabatnya. The next best thing adalah generasi tabi'in, kemudian tabiut tabiin dan seterusnya. Sedangkan generasi terburuk adalah generasi yang hidup ketika kiamat terjadi.

Namun saya kurang sependapat dengan pendapat tersebut. Menurut saya, generasi terbaik manusia belum muncul. Alasan saya sederhana, karena saya menganalogikan dengan film atau film seri. Biasanya di dalam film, adegan terbaik atau adegan klimak atau episode terbaik baru muncul di akhir-akhir film atau di akhir-akhir episode. Contoh: dalam film Endgame, adegan terbaik adalah the battle scene atau pertempuran klimaks antara para avengers dan sekutunya melawan Thanos dan anak buahnya yang baru terjadi menjelang akhir film. Contoh lain, dalam film the Shawshank Redemption, adegan terbaik muncul di akhir-akhir film, dimana adegan tsb sangat layak untuk ditonton berkali-kali.

Itulah yang mendasari kenapa saya menduga kenapa generasi manusia terbaik tidak terjadi pada era Nabi Muhammad. Kalau seandainya generasi manusia terbaik terjadi pada masa Nabi Muhammad dan para sahabatnya, untuk apa lagi umat manusia hidup ribuan tahun setelah era tersebut berlalu? Apa lagi yang ingin dibuktikan? Jika demikian, semestinya kiamat terjadi tidak lama setelah Nabi Muhammad wafat. Namun kenyataannya tidak demikian, bukan?

Saya percaya bahwa generasi manusia terbaik adalah generasi manusia yang dideskripsikan dalam kitab Yesaya 11 dan pasal-pasal sejenisnya, dimana digambarkan serigala akan berdampingan dengan domba, tidak ada lagi perang, dan sebagainya. Keadaan itu baru akan terjadi di akhir zaman kelak, and it's definitely worth waiting. Itulah kondisi yang sangat layak dinantikan, baik oleh umat manusia maupun makhluk lain di alam semesta, termasuk para malaikat. Kemungkinan, generasi terbaik ini atau versi terbaik dari umat manusia adalah mereka yang dapat selamat dari fitnah terbesar sepanjang masa, alias lulus dari fitnah dajjal si pendusta.

Nah, sekarang pertanyaannya, apakah era tersebut akan terjadi di masa kita, atau apakah kita layak untuk menyaksikan periode emas tersebut? Hanya Tuhan yang tahu.

Minggu, 07 Maret 2021

Why I Still Choose this Religion

Alasan mengapa saya tetap memilih Islam.

Sekitar ~20~tahun yang lalu, saya sudah membaca situs-situs yang menyerang Islam seperti answering-islam dan faithfreedom. Saya sudah membaca argumen-argumen mereka. Sebagian besar argumen mereka sebenarnya bisa dijelaskan atau dibantah. Namun, ada juga beberapa argumen mereka yang cukup kuat dan masuk akal.

Walaupun ada segelintir argumen mereka yang cukup kuat dan saya belum punya jawabannya/bantahannya, mengapa saya tetap yakin dengan agama Islam ini?

Alasan utamanya adalah karena Islam melengkapi agama Abrahamik sebelumnya, yaitu Yahudi dan Nasrani. Tanpa adanya Islam, Al Quran, dan Nabi Muhammad, maka sebagian nubuat yang ada di dalam Taurat dan Injil menjadi janggal karena tidak tergenapi. Berikut ini beberapa nubuat dalam Taurat dan Injil yang digenapi oleh Islam/Nabi Muhammad. 

Satu: Genesis 17:20

Dalam ayat ini, Tuhan telah berjanji bahwa Dia akan memberkati Ishmael dan akan membuat keturunan Ishmael menjadi bangsa yang besar. Tidak mungkin yang dimaksud 'bangsa yang besar' adalah suatu bangsa yang jumlah manusianya banyak, karena kalau demikian ukurannya maka bangsa terbesar di dunia adalah bangsa Cina. Tidak ada penafsiran yang tepat untuk 'bangsa yang besar' selain bahwa Tuhan akan memberkati keturunan Ishmael dan akan melahirkan seorang Nabi dari keturunan Ishmael yang akan membawa kejayaan bagi keturunan Ishmael (Kedar dan Nebayot?). Sejarah mencatat bahwa satu-satunya manusia yang mengklaim sebagai Nabi (dan berjaya) dari keturunan Ishmael hanyalah Nabi Muhammad. Setelah Nabi Muhammad wafat, pemerintahan diteruskan kepada Khalifah yang empat ( yang semuanya orang Quraisy), kemudian bani Umayyah, serta bani Abbasiyah yang seluruhnya merupakan keturunan Ishmael. Nah, kejayaan Islam selama ratusan tahun inilah yang merupakan penggenapan dari janji Tuhan untuk memberkati keturunan Ishmael.

Dua: Deuteronomy 18:18-19

Dalam beberapa catatan kaum Qumran yang ditemukan di sekitar Laut Mati (Dead Sea Scrolls) ternyata mereka (kaum Qumran) menantikan setidaknya dua atau tiga figur/sosok yang berbeda, yakni seorang Nabi seperti Musa (the Prophet), dan setidaknya dua orang Mesias yaitu Mesias keturunan Harun (Priestly Messiah) dan Mesias keturunan Daud (Royal Messiah). 

Apa yang tertulis dalam catatan kaum Qumran bahwa sosok sang Nabi (the Prophet like Moses) merupakan figur yang berbeda dengan sang Mesias ternyata sangat cocok dengan apa yang tertulis dalam Injil Yohanes 1:19-30, ketika orang-orang bertanya kepada Yohanes Pembaptis siapakah dia sebenarnya, apakah Mesias, apakah sang Nabi, ataukah Elia. Dengan demikian jelas bahwa orang-orang di masa Yohanes Pembaptis tahu bahwa sosok Sang Nabi belum muncul di masa mereka. Demikian juga sang Mesias pun saat itu belum muncul di masa mereka. 

Nah, kalau kita asumsikan bahwa Yesus adalah Mesias, maka sang Nabi tsb tidak ada alternatif lain yang lebih masuk akal selain Muhammad. Orang-orang Kristen saat ini percaya bahwa Yesus-lah sang Mesias maupun sang Nabi seperti Musa, namun hal ini berbeda dengan kepercayaan kaum Qumran dan kepercayaan orang-orang di masa Yohanes Pembaptis yang percaya bahwa Sang Nabi adalah sosok yang berbeda dengan Sang Mesias. Bagaimana bisa sama, karena ayat yang menubuatkannyapun berbeda. Nubuat tentang Sang Nabi ada di dalam Kitab Ulangan 18:18 sementara nubuat untuk Mesias menurut kaum Qumran ada di dalam Ulangan 33 dan Bilangan 24. 

Lagipula sosok Yesus tidak mirip dengan sosok Nabi Musa. Yesus misalnya tidak membawa Hukum baru untuk bani Israel, tidak seperti Nabi Musa yang membawa Hukum baru untuk bani Israel. Yesus tidak melakukan hijrah atau tidak membawa pengikutnya bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain, tidak seperti Nabi Musa yang membawa pengikutnya hijrah dari Mesir ke Syam (Levant). Yesus tidak berperang melawan orang-orang kafir/pagan, tidak seperti Nabi Musa yang memimpin perang umat Israel melawan bangsa-bangsa pagan di daerah Syam (Levant).

Menurut saya, tidak/belum ada kandidat lain selain Muhammad yang lebih tepat dalam menggenapi nubuat mengenai seorang Nabi seperti Musa.

Tiga: Isaiah 21:16-17 dan 42:11

Dalam kitab Yesaya terdapat nubuat mengenai Kaum Kedar (dan Nebayot) anak Ishmael yang akan berjaya. Kalau bukan karena Nabi Muhammad dan umat Islam setelahnya yang menggenapi nubuat tsb, siapa lagi?

Empat: Matius 21:43

Dalam Injil Matius, Yesus menyatakan bahwa Kerajaan Surga akan diambil dari bangsa Israel dan akan diberikan kepada suatu bangsa (gentiles) yang akan menghasilkan buah Kerajaan tsb. 

Siapakah bangsa (gentiles) yang dimaksud Yesus akan menghasilkan buah Kerajaan tsb? Apakah bangsa Yunani atau Romawi yang digadang-gadang sebagian umat Kristen karena pusat Gereja Katolik ada di Romawi atau Gereja Orthodox yang ada di Yunani? I don't think so. Kenapa? Karena tidak ada satupun Nabi dari kedua bangsa tersebut. Padahal ketika Yesus mengatakan "buah", maka pada bagian lain di dalam Injil dikatakan bahwa "buah" memiliki kaitan erat dengan nabi (Mat 7:15-16). Lagi pula tidak ada sosok manusia/komunitas Romawi/Yunani yang nampak seperti menghasilkan buah kerajaan tsb. Beda halnya dengan Nabi Muhammad dan umat Islam pada beberapa abad awal hijriah.

Pertama, di dalam Al Quran, Nabi Muhammad disebut sebagai Nabi Ummi, dimana penafsiran yang paling tepat untuk Nabi Ummi adalah Nabi dari bangsa non-Israel atau non-Ahli Kitab, alias gentiles. Kedua, Nabi Muhammad dan juga umat muslim generasi awal memang benar-benar mengubah dunia umumnya dan bangsa Arab (bani Ishmael) khususnya menjadi lebih baik. Bangsa Arab yang sebelumnya mengalami masa-masa jahiliyah dan tidak punya peranan apapun dalam dunia internasional berubah menjadi bangsa yang beradab dan menjadi pusat peradaban umat manusia, khususnya pada masa-masa kekhalifahan Harun al Rasyid dan Al Makmun. Bukan hanya itu, Mekkah secara harfiah berubah menjadi "rumah doa segala bangsa", karena orang yang berkunjung ke Mekkah bukan hanya orang Arab saja melainkan seluruh umat manusia dari berbagai penjuru dunia. Semua itu bermula dari diutusnya Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah.

Namun, walaupun benar bahwa Nabi Muhammad memang memenuhi sebagian nubuat yang ada di dalam Alkitab, umat Islam jangan sampai ge-er dan besar kepala, apalagi jumawa. Kenapa? Karena masih terdapat beberapa nubuat di dalam Alkitab yang belum terjadi karena tidak digenapi oleh Nabi Muhammad, atau Yesus, atau siapapun juga ... setidaknya belum digenapi. Jadi, saya merasakan bahwa Islam bukanlah akhir dari segalanya melainkan hanya salah satu komponen pelengkap dari serentetan Rencana Allah (God's Will). Cerita ini belum berakhir, masih ada kelanjutannya.

Beberapa nubuat di Alkitab yang belum terjadi antara lain kembalinya Yerusalem menjadi "kiblat" bagi seluruh umat manusia yang antara lain terdapat di dalam Yesaya 2 dan Mikha 4, Yesaya 11, Zakharia 8, dan lain sebagainya. Jika Anda percaya bahwa ada sebagian nubuat di dalam Alkitab yang digenapi oleh Nabi Muhammad, apakah Anda akan mengingkari bahwa ada nubuat lain yang bukan untuk Nabi Muhammad? Saya percaya bahwa nubuat2 akhir zaman yang ada di dalam Akitab tsb memang benar, dan memang bukan untuk digenapi oleh Nabi Muhammad melainkan oleh sosok/figur lain.

Kembali ke kaum Qumran, saya percaya bahwa mereka benar ketika mereka menantikan beberapa sosok yang akan datang, yakni Sang Nabi dan lebih dari seorang Mesias yakni Mesias Harun dan Mesias Israel. Sang Nabi tsb adalah Muhammad, sedangkan Mesias Harun kemungkinan besar adalah Yesus Kristus. Nah, sosok ketiga ini belum muncul. Kemungkinan besar sosok ketiga ini adalah Mesias keturunan Daud, atau mungkin juga Raja Daud itu sendiri. Tapi nampaknya sosok Mesias akhir zaman ini tidak akan datang sendirian. Kemungkinan kedatangan beliau akan didahului oleh sosok lain yakni Imam Mahdi dan/atau Nabi Elia (Ilyas). Wa Allahu a'lam.

Relics:

Jika seandainya umpamanya ternyata agama Islam/Quran tidak benar, maka kemungkinan besar agama Abarahamik yang lain pun juga tidak benar. Jika demikian, lalu siapa yang benar? Orang Hindu? Buddha? Atheis? Ancient Aliens? Na'udzubillahi min dzalik

Sabtu, 12 Desember 2020

Menjadi Muslim dan Shabi'in

"Sesungguhnya orang-orang beriman, orang Yahudi, Nasrani, dan Shabi'in, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula mereka bersedih hati" (QS 2:62)

Dalam kitab sahih bukhari dinyatakan Abu Abdullah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan shabi'i adalah orang yang keluar dari satu agama ke agama lain, atau kalau dalam bahasa inggris disebut the convert. Nabi Muhammad dan para sahabatnya sendiri pun pada mulanya juga sempat disebut sebagai ash-shabi'. Sedangkan menurut Abu Aliyah, Ash-shabiun adalah kelompok dari Ahli Kitab yang membaca kitab Zabur atau Mazmur (Psalms). Sementara beberapa ahli tafsir seperti  Imam Al Khalil dalam tafsir Qurthubi menyatakan bahwa yang dimaksud kaum shabi'un adalah pengikut Nabi Nuh. 

Menurut saya, ketiga pendapat di atas sama-sama benar, dan ketiga pendapat di atas sangat mungkin untuk dikompromikan. Saya berpendapat bahwa kaum shabi'in di masa kini adalah apa yang disebut sebagai the Noahides atau bnei Noach, yaitu orang-orang yang menerima Tujuh Hukum Nabi Nuh atau the Seven Laws of Noah. Dengan demikian ini selaras dengan pendapat Al Khalil. Nah, berdasarkan pengalaman atau testimony dari sejumlah pengikut the Noahides di masa kini, hampir seluruhnya adalah the converts, atau orang yang berpindah agama. Kebanyakan pengikut the Noahides ini adalah orang yang tadinya memeluk agama Kristen. Dengan demikian ini pun sesuai dengan arti kata shabi' yang berarti orang yang berpindah agama. Kemudian, dalam hal berdoa, kaum the Noahides tidak jarang mengutip doa dari Kitab Mazmur atau Zabur. Dengan demikian ini pun sejalan dengan pendapat Abu Aliyah di atas.

Saya sudah membaca beberapa buku mengenai the Noahides ini, antara lain the Path of the Righteous Gentiles dan the World of Ger. Setelah membaca buku-buku tentang the Noahides ini saya menjadi tertarik dengan the Noahides karena saya melihat banyak persamaan antara the Noahides dengan Islam. Dan berdasarkan apa yang saya lihat dan dengar (di youtube) maupun yang saya baca, seorang muslim bisa saja menjadi seorang the Noahides alias ger toshav (atau ash-shabi'in?) tanpa meninggalkan keislamannya. Alasannya ya karena itu tadi, sepertinya tidak ada perbedaan yang sangat prinsip antara Islam dengan the Noahides.

Pada prinsipnya, seorang muslim bisa menjadi bnei Noach atau the Noahide jika dia menerima Tujuh Hukum Nabi Nuh, antara lain no idolatry, no blasphemy, don't murder, don't steal, no adultery, etc, yang mana hampir seluruh larangan tsb juga ada di dalam Islam. Bahkan hal ini sangat sejalan dengan ayat Al Quran surah 42:13 dimana dikatakan bahwa Allah mensyariatkan kepada kamu (umat muslim) agama yang sama dengan yang Dia wasiatkan kepada Nabi Nuh. Hal ini membuat saya percaya bahwa seorang muslim bisa saja menjadi seorang shabi'in atau bnei Noach sekaligus, karena pada hakikatnya syariat Islam adalah sama dengan agama Nabi Nuh.


Relics: QS 42:13 dalam beberapa terjemahan Al Quran berbahasa Inggris:

He has ordained for you all, the same System of Life that He enjoined upon Noah - And We have revealed to you (O Prophet) the same Message as We enjoined upon Abraham, Moses, and Jesus: "Establish the Divine System of Life and make no sects in it." (Shabbir Ahmed)

He enacted rules (and rites) for your religion which are the same (rules) as He decreed for (the messenger) Nooh. What We have revealed to you are the same commandments as We gave to (the messengers) Ibraheem, Musa and Jesus: (namely) to establish the faith and not (disunite and) splinter into sects. (Dr. Munir Munshey)

He has laid down the same deen for you as He enjoined on Nuh: that which We have revealed to you and which We enjoined on Ibrahim, Musa and ´Isa: ´Establish the deen and do not make divisions in it. (Aisha Bewley)

The way He has established things for you, is the same way that He enjoined those things on Noah. Those things which We have sent by inspiration to you, and that which We enjoined on Abraham, Moses, and Jesus. Namely, that you should remain steadfast, and make no divisions therein.  (Bilal Muhammad et. al)

He made the same religion for you as for Nuh; We revealed the same to Ibrahim, Musa and Isa, to accept this religion and not be divided. (Musharraf Hussain)

God has prescribed for you the same way of life that He prescribed to Noah. God has revealed to you (Mohammad) the same principles revealed to Abraham, Moses and Jesus. Do not make any division [in the religion of God.] (Bijan Moeinian)

He has given to you the ( same ) law of religion which He had enjoined on Nuh; and that which We communicated to you and that which We enjoined on Ibrahim and Musa and Isa ( are also the same), that: “Establish the religion and do not be divided therein.” (Mir Aneesuddin)

To you people He has enjoined the same system of Faith He enjoined Nuh (Noah); the system of faith which We inspired to you O Muhammad, the same system did We enjoined Ibrahim (Abraham), Mussa (Moses) and Isa (Jesus) to follow  (Al-muntakhab fi tafsir al Quranul karim)

Rabu, 27 Mei 2020

Kisah Manusia (Adam): sebuah interpretasi

Berikut ini merupakan interpretasi saya terhadap Al Quran dan juga Alkitab (serta hadits) mengenai penciptaan manusia (Adam). Tentu saja interpretasi saya bisa salah, bisa juga benar, Allah-lah yang lebih tahu. Namun saya berharap apa yang saya tuliskan berikut ini tidak melenceng jauh dari kebenaran.

Apa yang terjadi sebenarnya?


Berawal dari kehendak Tuhan untuk menjadikan manusia sebagai khalifah (pengganti) Tuhan di muka bumi. Manusia ini diciptakan-Nya sesuai dengan citra-Nya. Apa maksudnya? Manusia akan berkuasa atas segala ikan di laut, burung di udara, dan segala jenis binatang di bumi (Kitab Kejadian 1:26, 28).

Namun, karena Tuhan itu adil dan bijaksana, maka sebelumnya Tuhan menawarkan lebih dahulu kepada manusia, apakah manusia mau menerima amanat atau tidak? Ternyata manusia (Adam) bersedia menerima amanat tersebut (QS 33:72). Kemungkinan amanat tersebut berupa enam perintah Tuhan yaitu jangan menyembah berhala, jangan menghujat nama Tuhan, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berzina, serta menegakkan keadilan. Enam perintah ini hampir sama dengan the Seven Noahide Laws minus jangan memakan darah.


Setelah manusia (Adam) menerima amanat tersebut, barulah kemudian Tuhan mengajarkan kepada Adam segala sesuatu yang harus diketahuinya.

Kelebihan utama manusia dibandingkan para Malaikat, imho, bukanlah karena manusia (Adam) lebih pintar daripada Malaikat, namun kelebihannya adalah karena manusia memiliki free will, manusia bisa menciptakan sesuatu yang baru, dan manusia bisa melakukan suatu pekerjaan baru yang belum ada SOP (Standar Operasi Prosedur)-nya. Berbeda dengan para malaikat yang tidak bisa melakukan semua hal itu. Malaikat hanya mengetahui hal-hal yang sudah diajarkan Tuhan kepada mereka, namun tidak mengetahui hal-hal yang tidak diajarkan Tuhan kepada mereka. Sementara manusia bisa mempelajari sendiri hal-hal yang tidak diajarkan Tuhan kepada mereka. Ilustrasinya kira-kira seperti ini: misalkan di bumi ini telah terdapat seribu jenis spesies binatang, dan para Malaikat telah diajari Tuhan mengenai nama-nama dari seribu binatang tersebut, maka hanya sebatas itulah pengetahuan Malaikat. Jika misalnya terdapat sejumlah spesies binatang baru yang berbeda dari keseribu binatang tsb dan Tuhan belum mengajarkan kepada Malaikat nama-nama dari spesies baru tersebut, maka Malaikat tidak akan pernah tahu nama dari sepesies baru tersebut karena Malaikat tidak berkuasa untuk menciptakan sendiri nama dari spesies baru tersebut. Berbeda dengan manusia yang bisa memberikan nama baru kepada sesuatu yang baru dilihatnya. Oleh karena itu, ketika Tuhan bertanya kepada Malaikat, "Sebutkanlah kepada-Ku nama dari benda-benda ini" dan Malaikat tidak bisa menjawab, sedangkan Adam bisa menjawab, hal tersebut menurut pendapat saya bukanlah karena para Malaikat tidak diberitahu nama dari benda-benda tsb sedangkan Adam sudah diberi tahu nama dari benda-benda tersebut. Kalau demikian, maka itu kurang fair. Menurut saya, ketika itu, para Malaikat dan Adam sama-sama tidak diberitahu sebelumnya mengenai nama dari benda-benda tersebut. Atau dengan kata lain, ketika Tuhan bertanya kepada Malaikat (dan juga Adam) akan nama dari benda-benda tsb, benda tsb adalah benda baru yang sama sekali belum pernah ada sebelumnya. Nah, dalam kasus ini, para Malaikat tidak bisa menyebutkan namanya, sedangkan Adam bisa. Kemungkinan, benda yang ditanyakan oleh Tuhan tsb adalah sejumlah spesies baru dari jenis binatang (rujukan Kejadian 2:19-20). Itulah kelebihan Adam dibandingkan Malaikat, sehingga Tuhan menyuruh para Malaikat untuk bersujud kepada Adam.


Kemudian ternyata Tuhan tidak hanya berlaku adil dan bijaksana kepada Adam saja (dengan memberikan pilihan kepada manusia apakah ia mau menerima amanat dari Tuhan atau tidak sebagaimana tertulis dalam QS 33:72), namun Tuhan juga berlaku adil kepada keturunan Adam dengan memberikan pilihan apakah keturunan Adam mau menerima Tuhan sebagai Rabb kita atau tidak (QS 7:172). Dan sebagaimana tercatat dalam ayat 172 tsb, ternyata setiap manusia yang lahir ke muka bumi ini bersedia mengakui Tuhan sebagai Rabb-nya. (Jika seandainya ada calon manusia yang tidak bersedia mengakui Tuhan sebagai Rabb-nya, maka kemungkinan calon manusia tsb tidak akan pernah lahir ke dunia ini dengan selamat, wa Allahu a'lam).


Kesimpulan: kita-kita ini sebenarnya sudah terikat perjanjian dengan Tuhan bahwa kita mengakui Tuhan sebagai Rabb kita. Masalahnya, kita tidak ingat sama sekali dengan perjanjian tsb. Sekarang yang penting adalah bagaimana kita senantiasa memegang teguh perjanjian kita dengan Tuhan dan menegakkan tujuh hukum utama yang telah ditetapkan oleh Tuhan bagi seluruh keturunan Adam.


Keterangan:
Tulisan ini merupakan versi awal dari tulisan saya yang serupa yang diposting pada blog muktazilah. Perbedaannya adalah pada versi edited (blog muktazilah), Adam menerima amanat dari Tuhan (QS 33:72) sesudah Adam memberi nama pada hewan-hewan (Kejadian 2:19, 20, QS 2:33).
Saya pribadi tidak yakin, mana yang lebih dulu terjadi: QS 33:72 ataukah QS 2:33-34?