Selasa, 23 April 2019

Mempertanyakan Berat dari Dinar dan Dirham


Menurut tradisi Islam saat ini, berat satu dinar ditetapkan sebesar 4,25 gram, sedangkan berat dari satu dirham sebesar 2,975 gram, atau tepat 7/10 (70%) dari berat dinar. Nah, mengapa harus dibedakan antara berat dinar dengan dirham, sementara dunia internasional tidak membedakakan berat antara emas dan perak. Dunia internasional mengukur berat emas dan perak dengan satuan yang sama, yaitu dengan menggunakan troy ounce (oz), atau dengan menggunakan satuan gram. Dengan demikian, jika misalnya kita membeli emas batangan atau membeli koin perak dari luar negeri, biasanya menggunakan salah satu dari kedua standar berat tersebut, misalnya emas batangan 2 gram,  silver bar 10 gram, koin emas 1/10 oz, koin perak 1 oz, dan sebagainya. Namun kenapa di dunia Islam harus dibedakan antara berat emas dan berat perak? Dan pertanyaan yang lebih penting lagi adalah kenapa satuan dinar itu seberat 4,25 gram, dari mana angka ini didapatkan?

Istilah dinar dan dirham sebenarnya bukanlah istilah asli dalam dunia Islam, melainkan merupakan adopsi dari dunia barat, atau tepatnya Romawi dan Yunani. Kata dinar berasal dari kata denarius, yaitu koin perak yang lazim dipakai pada masa Romawi kuno, sedangkan kata dirham berasal dari kata drachma, yaitu koin perak yang digunakan pada masa Yunani kuno. Adapun berat dari satu drachma sekitar 4,3 gram lebih sedikit, sedangkan berat dari satu dinar sekitar 4,5 gram, atau tidak terlalu berbeda jauh dengan berat dari satu koin drachma. Kita bisa melihat bahwa ternyata berat dinar dan dirham dalam dunia Islam ternyata tidak sama dengan berat koin drachma dan koin denarius yang asli. Lalu, kenapa berat koin dirham dalam dunia Islam berbeda cukup jauh dengan berat koin drachma yang asli, dan juga berat koin dinar dalam dunia Islam berbeda dengan berat koin denarius Romawi?

Dari berbagai informasi di internet yang saya baca, ternyata fiqih Islam menetapkan sendiri berat dari satu dinar. Dalam fiqh Islam, berat dari satu dinar ditetapkan sama dengan berat satu mitsqal, dimana berat dari satu mitsqal adalah seberat 72 butir gandum (grain) yang dipotong kedua ujungnya. Nah, yang jadi pertanyaan adalah kenapa butiran gandum tersebut harus dipotong kedua ujungnya? Sebenarnya dunia internasional pun juga menggunakan butiran gandum (grain) sebagai patokan ukuran, di mana berat dari satu butir gandum menurut standar internasional ditetapkan seberat 0,06479891 gram. Satu troy ounce ditetapkan seberat 480 grains, sehingga berat 1 oz = 31,103 gram

Nah, jika seandainya dunia Islam menggunakan satu gandum utuh sebagai patokan -dan bukan gandum yang dipotong kedua ujungnya- maka kita akan mendapatkan berat satu mitsqal atau satu dinar itu semestinya adalah 4,66 gram, bukannya 4,25 gram. Namun karena gandum tersebut disunat kedua ujungnya, maka berat dari satu mitqal pun ikut tersunat menjadi 4,25 gram. Nah, inilah sebabnya saya kurang sreg menggunakan satuan dinar atau dirham karena memotong gandum tersebut tidak ada standarnya, bisa terlalu pendek, dan bisa terlalu panjang, yang pada gilirannya membuat ukuran berat dari mitsqal pun bisa berubah-ubah. Saya lebih suka menggunakan satuan yang lebih pasti, yaitu menggunakan butir gandum utuh yang beratnya sudah ditetapkan oleh dunia internasional yaitu seberat 0,06479891.

Kemudian selanjutnya, kenapa juga dunia Islam harus membedakan berat antara dinar emas dan dirham perak. Sebagaimana telah disebutkan di atas, berat dari satu dirham perak ditetapkan sebagai 7 per 10 (70%) dari satu dinar, sehingga berat dari satu dirham perak adalah seberat 2,975 gram. Menurut saya, perbedaan berat ini akan membuat kita sulit untuk mengetahui berapakah rasio nilai dari harga emas dan perak. Misalkan di dalam fiqih ada disebutkan bahwa nilai dari tiga dirham setara dengan nilai dari seperempat dinar. Dari ketetapan tersebut kita akan mendapatkan bahwa di dalam dunia Islam dulu nilai satu dinar setara dengan nilai dari 12 dirham (1:12). Namun, karena dinar dan dirham ini menggunakan satuan berat yang berbeda, maka rasionya 1:12 tersebut menjadi tidak tepat. Karena berat dirham hanya 7/10 dari berat dinar, maka rasio 12 pun harus dikalikan 70%, sehingga membuat rasio yang tepat antara emas dan perak pada dunia Islam masa lalu sebesar 1 : 8,4. Rasio emas dan perak sebesar 1:8,4 ini membuat harga perak dinilai terlalu tinggi, karena setahu saya rasio antara emas dan perak di masa lalu berkisar antara 1:10 hingga 1:15 atau 1:16. Dengan demikian rasio 1:8 membuat harga perak mengalami overvalued. Di masa kini bahkan rasio antara emas dengan perak berkisar antara 1:50 hingga 1:70.

Bagaimana semestinya?
Menurut saya, jika kita ingin menggunakan butir gandum (grain) sebagai patokan ukuran berat, maka seharusnya kita tidak usah memotong butiran gandum tersebut, melainkan kita ikuti standar dunia internasional terhadap butir gandum yaitu seberat 0,06479891. Dengan demikian, satu mitsqal yang setara dengan berat 72 butir gandum semestinya beratnya sekitar 4,6 gram. Atau barangkali lebih baik dibulatkan ke atas saja menjadi 5 gram. Atau sebaiknya kita menggunakan satuan berat gram saja dalam mencetak koin dirham perak dan dinar emas, seperti  5 gram, 10 gram,  20 gram, dan sebagainya. Wa Allahu a’lam.


RELICS
Baru-baru ini saya membrowsing situs nubex.my dan menemukan salah satu koin perak drachma di sana. Koin tersebut konon terinspirasi dari koin perak masa masa kerajaan Sasanid. Yang menarik adalah bahwa berat dari koin perak tersebut adalah 4 gram dan bukan 2,975 gram.





Senin, 15 April 2019

Belajar dari Krisis di Venezuela


Pada saat ini negeri Venezuela yang terletak di benua Amerika Selatan, tengah mengalami krisis yang berkepanjangan. Krisis ini awalnya disebabkan oleh inflasi yang gila2an (hyperinflasi) yang terjadi pada awal/pertengahan tahun 2018 yang menyebabkan mata uang Venezuela yakni Bolivar nilainya merosot drastis. Sebagai gambaran, kalau biasanya untuk membeli sekotak tissue mereka cukup membayar dengan selembar uang Bolivar, namun setelah krisis, kini mereka harus membayarnya dengan beberapa bundle kertas, yang kalau dihitung-hitung mungkin jumlah lembaran uang kertas yang harus dibayarkan lebih banyak daripada jumlah lembaran tissue yang akan didapatkan.

Sumber gambar:  https://www.news.au.com

Namun sampai dengan bulan Maret tahun 2019 ini krisis tersebut belum berhasil diselesaikan oleh pemerintah setempat, kalau tidak mau dibilang bahkan krisis tersebut menjadi bertambah parah. Baru-baru ini Venezuela mengalami pemadaman listrik selama hampir seminggu yang menyebabkan keadaan penduduk Venezuela semakin sengsara. Penjarahan toko nampaknya sudah menjadi pemandangan sehari-hari di Venezuela.
Bersyukurlah kita yang tidak mengalami krisis seperti halnya di Venezuela. Sehubungan dengan krisis Venezuela tersebut, terdapat beberapa pelajaran yang bisa kita petik, dan kita persiapkan/antisipasi apabila seandainya krisis tersebut terjadi di negara kita.

Pertama, ketika krisis terjadi, maka biasanya yang akan menjadi masalah adalah soal makanan dan minuman. Bagi orang dewasa mungkin masih bisa menahan lapar, sebagaimana pengakuan salah seorang warga Venezuela, tapi bagaimana dengan anak-anak mereka? Orang tua mana yang tega melihat anak-anaknya menangis karena kelaparan? Dalam situasi tersebut, sangat mungkin banyak orang tua yang rela berdosa dan melakukan penjarahan pada toko-toko makanan dsb. Oleh karena itu, ada baiknya jika setiap keluarga seyogyanya memiliki persediaan makanan yang cukup, terutama bahan makanan atau makanan kering yang memiliki masa kadaluarsa yang cukup lama, contohnya seperti MRE (Meals Ready to Eat).

Kedua, menurut berita dari Venezuela, dilaporkan bahwa sejumlah toko di Venezuella hanya mau menerima pembayaran dalam bentuk mata uang US Dollar, dan toko-toko tersebut menolak mata uang Bolivar yang justru merupakan mata uang resmi di Venezuela. Hal ini membuktikan bahwa ketika krisis terjadi, maka uang kertas alias fiat money akan menjadi tidak berharga nilainya. Oleh karena itu, sebagai antisipasi, saya menyarankan agar kita memiliki “mata uang” lain selain mata uang negara kita sendiri. Saya tidak mengatakan bahwa sebaiknya kita menyimpan mata uang USD (kertas), namun yang saya maksudkan sebagai “mata uang lain” adalah mata uang yang telah berlaku selama berabad-abad, bahkan hingga bermilenium-milenium lamanya. Yang saya maksud adalah mata uang abadi, yakni emas dan perak. Sejarah membuktikan bahwa baik emas maupun perak telah memainkan peranan penting dalam perdagangan sejak beberapa abad sebelum masehi. Sejak beberapa abad sebelum masehi hingga abad ke 19 dan pertengahan abad ke-20, emas dan perak memegang peranan penting dalam perekonomian manusia. Emas dan perak kehilangan pengaruhnya hanya baru-baru ini saja, tepatnya sejak beberapa dekade yang lalu, khususnya ketika Amerika Serikat tidak lagi menjamin US Dollar dengan standar emas, atau dengan kata lain Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan Bretton Woods.

Oleh karena itu, sebagai langkah antisipasi untuk menanggulangi jika seandainya krisis mata uang sebagaimana terjadi di Venezuela terjadi juga di negara kita, saya menyarankan agar kita semua mempersiapkan diri dengan “mata uang abadi”, yakni emas dan perak. Saat ini, banyak sekali pilihan bagi kita untuk berinvestasi dalam bentuk emas dan perak, akan tetapi saya tidak menyarankan anda untuk berinvestasi emas dalam bentuk virtual, melainkan saya sarankan agar anda berinvestasi emas dan/atau perak dalam bentuk fisiknya. Pilihan yang tersedia sangat beragam. Misalnya untuk perak, tersedia koin perak dalam bentuk dirham seberat 3 gram yang harganya sekitar 70 ribu ~ 130 ribu, koin 5 dirham seberat 14,8 gram, kemudian ada koin perak internasional dengan berat standar 1 oz(31,1 gram) seharga Rp 330.000~400.000, dan juga tersedia pula ukuran ½ oz, ¼ oz dan sebagainya dengan harga yang bervariasi. Belum termasuk perak batangan yang juga tersedia dalam berbagai ukuran dengan harga yang beragam. Kemudian untuk emas pun juga terdapat banyak pilihan seperti emas batangan, koin dinar, koin emas internasional, dan lain sebagainya dengan pilihan berat yang sangat beragam seperti 0,5 gram, 1 gram, 2 gram, dlsb. Saya percaya bahwa jika krisis terjadi, maka emas dan perak akan tetap memiliki nilai tinggi di mata umat manusia, sehingga emas dan perak akan menjadi alat tukar terbaik yang ada.
Saya menyarankan agar kita mempersiapkan “mata uang abadi” yang nilainya dapat digunakan untuk membeli makanan atau kebutuhan sehari-hari. Untuk emas misalnya, saya tidak menyarankan anda untuk menumpuk emas dalam bentuk emas batangan berukuran besar seperti 100 gram atau 50 gram, tapi saya lebih menyukai emas dalam ukuran kecil, misalnya 2 gram, 1 gram, 0,5 gram bahkan kalau perlu seukuran 0,2 gram. Sedangkan untuk perak, ada baiknya kita juga menyiapkannya dalam berbagai ukuran, misalnya 1 oz, ½ oz, ¼ oz, 10 dirham, 5 dirham, 2 dirham serta 1 dirham. Just in case, jika seandainya kita membutuhkan perak dalam ukuran tertentu saja, bukan dalam ukuran yang lain.
Sebagai  bahan referensi, berikut saya tampilkan harga emas dan perak per hari ini, tanggal 15 April 2019 pukul 14:00 WIB:

Sumber:  https://www.kitco.com/gold-price-today-usa/ per tanggal 15 April 2019 sekitar pukul 14:00 WIB


Sebagai perbandingan, berikut ini adalah harga sejumlah makanan cepat saji yang saya ambil datanya dari situs https://www.fastfoodmenuprices.com pada tanggal yang sama:

McDonalds: Big Mac – Meals                  $  5.99
Arby’s Classic Roast Beef Meal               $  5.69
Burger King Double Whopper Meal         $  7.59
Subway Club Footlong                              $  7.75
Dunkin Donuts  ½ Dozen                          $  5.79
Dunkin Donuts  Dozen                              $  9.99
Pizza Hut   Supreme Large                        $ 14.99
Starbucks Caffe Latte Grande                   $  3.65
Starbucks Mocha Frappucino Venti          $  4.95

Nah, jika kita membandingkan harga emas di pasaran luar negeri dengan harga makanan fast food yang biasa dijual di luar negeri, maka kita akan mendapatkan bahwa rata-rata harga makanan siap saji di sana berkisar antara $5 (Burger Mac Donalds) hingga $15 (Pizza Hut). Kalau kita konversi ke nilai emas yang harganya sekitar USD 1300 per troy ounce atau sekitar $41 per gram maka nilai emas yang setara untuk membeli makanan tersebut adalah sekitar  0,1 gram hingga 0.4 atau 0.5 gram. Karena alasan inilah maka saya menyukai untuk mengumpulkan emas dalam ukuran kecil seperti 0,2 gram, 0,4 gram, 0,5 gram atau 1 dan/atau 2 gram.

Bagaimana halnya dengan perak? Berdasarkan data pada laman yang sama di atas, harga perak berada di kisaran USD 14.90 per oz atau sekitar $ 0.48 per gram. Untuk membeli makanan-makanan cepat saji di atas, maka nilai perak yang kita butuhkan adalah koin  perak dengan ukuran berkisar antara ¼ oz, ½ oz, hingga 1 oz (ukuran standar).

Bagaimana dengan harga di Indonesia? Dari situs IndoGold per tanggal 14 Maret 2019, harga emas sekitar Rp 600.000,- per gram sedangkan harga perak sekitar Rp 7.000,- jika kita ingin menjual perak dan sekitar Rp 13.000,- jika ingin membeli perak.





Berapa rata-rata harga makanan di Indonesia, tentunya sangat bervariasi. Misalnya di tempat saya, harga sepiring lontong sayur dengan telur adalah Rp 10.000,- dan harga seporsi lontong tunjang sekitar Rp 20.000,-. Sedangkan jika saya makan bersama keluarga saya (total terdiri dari 3 orang) di rumah makan atau di restoran, biasanya kami menghabiskan dana mulai dari Rp 100.000,- hingga Rp 250.000,-

Dengan kisaran harga yang sangat bervariasi tersebut, tentunya ukuran logam mulia yang dibutuhkan juga sangat bervariasi. Saya misalnya, tidak mungkin membayar dengan emas jika saya memakan lontong sayur atau lontong tunjang sendirian, karena emas ukuran terkecil (Emas Mini) yang ada di pasaran adalah 0,1 gram atau kalau dirupiahkan maka harga setidaknya Rp 60.000,- Dengan demikian, jika saya hanya ingin makan lontong sayur atau lontong tunjang, maka saya hanya bisa membayar dengan perak. Namun masalahnya, perak terkecil yang umumnya ada di pasaran adalah perak ukuran 1 dirham yang beratnya sekitar 3 gram, yang jika kita konversi nilainya sesuai dengan harga hari ini maka perak 1 dirham tsb setara nilainya dengan 24.000 hingga 33.000 rupiah.

Sedangkan untuk makan di rumah makan atau di restoran, maka satuan yang dianjurkan untuk disiapkan antara lain emas dengan berat 0,2 gram atau 0,4 gram, atau jika kita menggunakan perak maka kita membutuhkan denominasi 1 dirham dan/atau 5 dirham; atau ¼ oz, ½ oz, dan/atau 1 oz.



Beberapa Emas batangan yang tersedia di pasaran:







Dua koin perak paling populer di dunia: American Silver Eagle dan Canadian Maple Leaf



Jumat, 24 Agustus 2018

Al Kahfi dan Silver Coin

Salah satu alasan saya mengoleksi Silver Coin adalah karena surah Al Kahfi. Apa hubungannya surah Al Kahfi dengan silver coin atau koin perak? Karena saya terinspirasi oleh para pemuda Al Kahfi, dimana digambarkan bahwa para pemuda Al Kahfi, dalam pelarian mereka, masih sempat-sempatnya membawa silver koin atau uang koin perak. Hal ini seperti terekam di dalam QS 18:19. Dalam beberapa terjemahan Al Quran berbahasa Inggris, kata "wariq" dalam ayat tsb diterjemahkan sebagai "silver coin" (koin perak dalam bentuk tunggal).

Pada masa kini, 'silver coin' didefinisikan sebagai koin perak berbentuk bundar yang dikeluarkan secara resmi oleh negara tertentu dan dijamin oleh pemerintah negara tersebut. Seringkali silver coin disertai dengan denominasi dalam mata uang negara tersebut, misalnya $1, $5, dsb. Sedangkan koin perak berbentuk bundar yang dikeluarkan oleh perusahaan swasta tidak bisa disebut sebagai silver coin, melainkan disebut sebagai silver round.

Dari definisi tersebut di atas, maka sebenarnya tidak banyak silver coin di dunia saat ini. Beberapa yang terkenal yaitu American Silver Eagle, Canadian Silver Maple Leaf, Chinese Panda, Austrian Philharmonic, British Britannia, serta Australian Kookaburra, Koala, dan Kangaroo. Sedangkan dirham cetakan PT Antam secara teori tidak bisa disebut sebagai "silver coin" melainkan disebut sebagai "silver round"

Kalau kita ingin mengaplikasikan surah Al Kahfi ayat 19 di masa sekarang ini, maka kata "wariq" dalam ayat tsb saya interpretasikan sebagai koin perak yang beredar secara luas di dunia pada masa kini seperti American Silver Eagle, Maple Leaf, dan koin-koin seperti saya sebutkan di atas. Oleh karena itu, saya mengoleksi koin-koin perak tersebut di atas, terutama Canadian Maple Leaf dan American Silver Eagle. Alasan saya mengoleksi kedua jenis koin perak tersebut adalah karena kedua jenis koin perak tersebut, American Eagle dan Maple Leaf, merupakan dua koin perak paling populer di dunia. Siapa tahu, suatu saat nanti saya akan membutuhkannya ketika saya harus "berhijrah" menghindari dajjal. wa Allahu a'lam.

Minggu, 29 Juli 2018

Koin Perak dan Milk Spots


Setelah kurang lebih setahun lamanya saya mengoleksi koin perak dari manca negara, saya merasa bahwa masalah yang paling menghantui saya adalah penyakit yang disebut milk spot atau noda keputihan yang muncul pada permukaan koin perak. Bagaimana tidak? Koin perak yang semula kinclong dan mengkilap berubah menjadi berpenyakitan dan tidak enak dilihat.
Dalam postingan kali ini saya akan membahas koin perak mana saja yang paling rentan terhadap milk spot, dan koin perak mana saja yang relative kebal terhadap milk spot.
Koin Perak paling rentan terhadap milk spot (diurut dari yang terburuk sampai dengan yang mendingan).


Lima Koin Perak Paling Rentan terhadap Milk Spots:


1. Canadian Silver Maple Leaf tahun 2017 dan tahun-tahun sebelumnya
Koin perak keluaran Royal Canadian Mint (RCM) tahun 2017 dan tahun-tahun sebelumnya sangat rentan terhadap milk spot. Dari sekian banyak koin perak yang saya miliki, koin dengan milk spot terparah adalah Maple Leaf ini. Berikut merupakan penampakan koin perak Maple Leaf dengan milk spot yang sangat parah:




  
2. Australian Kangaroo
Australian Kangaroo yang merupakan koin perak edisi murah meriah dari Perth Mint cukup rentan terhadap milk spot. Dari beberapa koin perak Kangaroo yang saya miliki, kurang lebih setengahnya sudah terkena milk spot sehingga membuat saya menjadi malas untuk mengoleksinya banyak-banyak. Sangat disayangkan, padahal koin perak Kangaroo merupakan satu dari sangat sedikit koin perak yang dilengkapi dengan fitur keamanan khusus yang canggih.



3. Somalian Elephant
Walaupun judul dari koin ini adalah “Somalia”, namun sebenarnya yang memproduksi koin ini adalah sebuah perusahaan Jerman. Koin perak Somalian Elephant beberapa tahun terakhir ini memiliki kadar 99,99% (quadruple 9). Entah kebetulan atau tidak, koin perak dengan kadar 99,99% lebih rentan terhadap milk spot dibandingkan koin perak dengan kadar triple 9 seperti ASE, Libertad, atau Panda. Tidak terkecuali Silver Elephant ini yang cukup rentan terhadap milk spot. Dari beberapa keping koin perak Somalian Elephant yang saya miliki, hampir semuanya terkena milk spot, walaupun dalam kadar yang tidak terlalu parah.



4. Britannia

Dari beberapa koin perak Britannia yang saya miliki, kurang lebih setengahnya terkena milk spot dengan kadar milk spot yang berbeda mulai dari yang ringan dan hampir tidak terlihat kalau tidak sengaja diperhatikan baik-baik sampai dengan yang cukup parah dan langsung dapat terlihat dengan mata telanjang.


5. Noah’s Ark
Beberapa koin perak Noah’s Ark yang saya miliki terkena milk spot yang cukup parah sebagaimana foto terlampir.




Lima Koin Perak yang relatif kebal terhadap Milk Spot:


5. Philharmonic

Dibanding lima koin di atas, nampaknya Philharmonic termasuk koin perak yang agak mendingan terhadap milk spot. Namun demikian, koin perak Philharmonic ini juga tidak terbebas dari milk spot.


4. “Liberty” dan Libertad
Baik American Silver Eagle yang berdesain the Walking Liberty maupun Mexican Libertad relatif kebal terhadap milk spot. Walaupun kedua jenis koin ini tidak benar-benar terbebas dari milk spot, namun setidaknya milk spot yang menyerang kedua koin ini tidak separah koin-koin lain seperti Maple Leaf edisi tahun2017 ke bawah, Kangaroo, atau Noah’s Ark



3. Chinese Silver Panda
Hampir sama seperti ASE dan Libertad, koin perak Chinese Panda pun relatif kebal terhadap milk spot. Kalaupun koin ini terjangkit milk spot, tidaklah seburuk koin-koin lainnya.



2. Kookaburra dan Koala

Tidak seperti saudaranya Kangaroo, Kookaburra dan Koala relative kebal terhadap milk spot. Dari beberapa koin perak Kooks dan Koala yang saya miliki, saya tidak/belum melihat adanya gejala milk spot.


1. Maple Leaf tahun 2018
Inilah koin perak terbaik yang menurut saya paling kebal terhadap Milk Spots. Dari sekian banyak koin perak Maple Leaf tahun 2018 yang saya miliki, sejauh ini saya belum melihat satupun dari koin tsb yang terkena milk spot. Royal Canadian Mint yang memproduksi koin Silver Maple Leaf memang mengklaim bahwa mereka sudah menggunakan teknologi Mintshield yang terbukti dapat mengurangi risiko milk spot secara signifikan. Dan sejauh ini saya merasakan bahwa klaim pihak RCM tsb memang tidak dapat dibantah.




Honorable mention: Koin Dirham Antam
Walaupun koin dirham Antam bukanlah termasuk “silver coin”, namun saya merasa tetap perlu untuk menyebut koin perak yang satu ini, karena saya merasa bahwa koin perak dirham Antam termasuk salah satu koin bagus yang cukup kebal terhadap milk spot.


Kamis, 14 September 2017

Review Dirham Antam, Wakala Nusantara, WIM, dan IMN



Setelah sebelumnya saya rajin berburu silver coins international seperti American Silver Eagle, Canadian Maple Leaf dll, beberapa hari terakhir ini saya rajin mengoleksi koin dirham perak “lokal” seperti koin dirham Antam, koin dirham Wakala Induk Nusantara (WIN), koin dirham seri kesultanan dari WIM, serta koin dirham IMN. Semuanya dalam pecahan 1 dirham yang beratnya kurang lebih sekitar 3 gram. Seluruh koin saya beli dari toko online seperti lazada, tokopedia, dan bukalapak.

Koin Dirham Antam
Dari ke-empat jenis koin dirham perak tersebut di atas, koin dirham antam adalah koin yang paling mahal. Harga sekeping koin dirham antam sekitar 160 ribu, jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan koin dirham keluaran WIN, WIM, dan IMN.
Secara desain, koin Antam sangat menarik dan rumit. Dan koin itu sendiri nampak cemerlang (bright and shiny), walaupun koin tsb diproduksi pada tahun 2003 sebagaimana keterangan yang tertera pada koin itu sendiri. Koin ini disertai secarik sertifikat, dimana pada sertifikat disertai keterangan bahwa diameter koin ini sebesar 25mm, sebuah diameter yang menurut saya sangat lebar untuk ukuran koin seringan 2,975 gram. Karena diameter koin yang sangat lebar sementara berat koin itu sendiri hanya 2,975 gram membuat koin ini menjadi sangat tipis, sehingga saya merasa khawatir jika koin ini akan patah jika saya menjatuhkan koin ini ke lantai atau memasukkan koin ini ke dalam saku celana jeans saya. (NB: saya tidak berniat untuk menguji sampai sejauh mana ketahananan koin ini, sehingga saya tidak akan pernah menjatuhkannya secara sengaja, dan tidak akan memasukkan koin ini ke dalam saku jelana jeans saya).



Koin Dirham Wakala Induk Nusantara
Koin dirham dari WIN ini saya beli dengan harga cukup murah, yaitu hanya 70 ribu rupiah per keping. Saya membeli koin ini 2 kali, dimana koin yang saya peroleh merupakan koin keluaran tahun 2003 yang mana pada koin tersebut masih mencatumkan kode (logam), kadar, serta berat dari koin, dan hal ini memang sesuai dengan standar internasional.
Diameter koin WIN ini sesuai sertifikat adalah 25 mm atau sama dengan diameter koin Antam, sehingga sebagaimana koin dirham Antam, koin WIN ini terkesan agak ringkih dan agak rentan untuk patah atau rusak. Secara desain, koin WIN ini menarik dan cukup rumit, tidak kalah dengan koin keluaran Antam, walaupun kalau dilihat dari tingkat kecemerlangan maka koin WIN ini sedikit kalah cemerlang dibanding koin Antam. Tapi itu bukan masalah, toh harga koin Wakala jauh lebih murah daripada koin Antam.


Gambar koin Dirham Kesultanan Ternate dan koin Dirham WIN dibandingkan koin perak 1/10 Buffalo round, ¼ oz Noah’s Ark, ¼ oz Buffalo serta uang seribu rupiah.


Koin Dirham Seri Kesultanan dari WIM
Koin Dirham Kesultanan ini sebenarnya terdiri dari beberapa jenis, sebut saja misalnya Kesultanan Ternate, Kesultanan Bintan, Kesultanan Cirebon, dan Kesultanan Tanjung Pura. Namun, untuk review ini saya menggunakan koin seri Kesultanan Ternate.
Berbeda dengan koin Antam dan koin WIN yang disertai sertifikat, maka koin dirham seri Kesultanan tidak memiliki sertifikat. Namun, untuk koin dirham Kesultanan Ternate kelebihannya adalah disertai dengan kapsul. Walaupun koin dirham seri kesultanan ini tidak disertai dengan sertifikat, namun hal tersebut bagi saya bukan masalah, karena keterangan mengenai kode logam, kadar dan berat koin sudah ada di badan koin itu sendiri. Lagi pula, selama saya membeli koin perak internasional seperti American Silver Eagle dan Canadian Maple Leaf, tidak ada satu pun yang disertai sertifikat, kecuali kalau saya membeli koin yang dinilai (graded) oleh lembaga seperti NGC dan PCGS.
Dimensi koin ini “hanya” sekitar 23mm , membuatnya nampak sedikit lebih kecil jika dibandingkan dengan koin dirham Antam maupun WIN. Namun justru di situlah kelebihannya. Diameter yang lebih kecil tsb otomatis membuat koin dirham seri Kesultanan lebih tebal daripada koin dirham Antam dan WIN. Dengan demikian, perasaan saya mengatakan kalau koin dirham seri Kesultanan serasa lebih kokoh jika dibandingkan dengan koin dirham antam dan atau WIN. Apalagi dengan adanya kapsul, membuat koin ini terasa lebih aman jika dimasukkan ke dalam kantong celana jeans atau masuk dompet.
Secara desain, koin ini sangat menarik dan rumit. Masing-masing koin Kesultanan memiliki gambar Obverse yang sama, yaitu gambar standar yang sudah ditetapkan oleh WIN. Namun gambar pada sisi Reverse-lah yang membedakan masing-masing Kesultanan. Koin ini nampak sangat cemerlang dan di-polish sedemikian rupa sehingga menjadi seperti cermin. 






Koin Dirham IMN
Jika pada ketiga jenis koin sebelumnya berat koin 1 dirham seragam yaitu 2,975 gram, maka koin dirham dari IMN ini memiliki standar sendiri yaitu 1 dirham = 3,11 gram atau setara dengan 1/10 troy ounce (oz). Koind dirham IMN yang saya terima merupakan keluaran lama yaitu tahun 1432 H, namun ini bukanlah masalah karena koin ini mencantumkan kodee, kadar, dan berat logam.
Mengenai harga, koin dirham IMN ini merupakan yang paling murah dibandingkan koin dirham lainnya. Harga sekeping koin dirham IMN ini saya beli dengan harga di bawah 50 ribu rupiah.
Dimensi koin ini sekitar 22mm, membuatnya menjadi lebih tebal dibandingkan koin dirham lainnya dan juga serasa lebih kokoh.

Tadinya saya juga ingin mereview koin khamsa dirham (satuan 5 dirham) yang beratnya sekitar 15 gram, namun berhubung harga koin 5 dirham dari masing-masing produsen cukup mahal, yaitu berkisar antara 350.000 – 450.000 maka saya mengurungkan niat saya. Dengan dana segitu, saya bisa mendapatkan koin perak internasional seperti American Silver Eagle, Australian Kangaroo, atau Armenian Noah’s Ark, yang beratnya dua kali lipatnya (31,1 gram).


Antam
WIN
WIM
IMN
Harga
6
8
8
9
Dimensi
6
6
8
8
Kerumitan Desain
9
9
9
9
Kemulusan
9
9
9
9
Kecemerlangan
9
7
9
8
Keterangan pada koin
9
9
9
9
Kapsul
No
No
Yes
No
Sertifikat



Penjelasan Beberapa Aspek yang saya nilai:
Dimensi menunjukkan ketebalan koin. Semakin tipis suatu koin maka nilainya akan semakin berkurang.
Kerumitan Desain menunjukkan seberapa detail desain koin sehingga ia sulit untuk diduplikat atau dipalsukan. Namun, untuk koin 1 dirham ini sebenarnya kerumitan desain bukanlah merupakan issue utama, karena secara ekonomi  nampaknya memalsukan koin 1 dirham perak tidak akan menguntungkan bagi para pemalsu koin karena harganya yang relatif murah.
Kemulusan menunjukkan apakah ada noda atau milk spot pada koin. Sejauh ini saya lihat penampakan seluruh koin baik-baik saja, tidak ada milk spot.
Kecemerlangan menunjukkan seberapa mengkilap (shiny) koin tersebut. Saya merasa bahwa koin dirham Kesultanan Ternate dan juga dirham Antam adalah yang paling mengkilap. Sedangkan koin dirham Wakala adalah yang paling tidak mengkilap (atau mungkin nampak sedikit kusam).

DISCLAIMER:
Review ini adalah murni pendapat pribadi saya yang tentu saja subyektif dan bisa diperdebatkan. Namun, saya tidak berafiliasi dengan Antam, WIN, WIM, maupun IMN, sehingga saya berusaha untuk menilai seobyektif mungkin.