Selasa, 25 Juli 2017

Menakar Kembali Dinar dan Dirham

Umat Islam di masa kini menganggap bahwa dinar adalah mata uang emas yang digunakan di dalam dunia Islam, sedangkan dirham adalah mata uang perak yang digunakan di dalam dunia Islam. Fikih kontemporer pada umumnya menyatakan bahwa berat 1 dinar emas adalah 4,25 gram, sedangkan berat dari 1 dirham perak adalah 2,975 gram atau 7/10 dari berat 1 dinar emas.

Tetapi pertanyaannya adalah, apakah benar aturan tersebut memang ditetapkan oleh Nabi?
Perlu diingat bahwa pada masa Nabi belum ada standar ukuran berat dalam satuan gram. Lagipula, koin emas dan koin perak yang beredar pada masa Nabi bukanlah buatan umat Islam sendiri melainkan produk dari bangsa lain seperti bangsa Romawi. Namun masalahnya adalah standar koin perak (dan emas) yang digunakan oleh bangsa Romawi berubah dari waktu ke waktu. Misalnya, standar 1 denarius (koin perak) yang digunakan oleh bangsa Romawi pada mulanya sekitar 4,55 gram. Namun standar berat ini turun menjadi 3,9 gram beberapa waktu kemudian, dan turun lagi menjadi 3,4 gram setelahnya dst. Sehingga kita tidak bisa memastikan koin perak apakah yang digunakan pada zaman Nabi, thus kita tidak bisa menghitung secara pasti berat dari 1 dirham perak.

Dinar dan Dirham di dalam Al Quran
Kata “dinar” dan “dirham” masing-masing disebutkan satu kali di dalam Al Quran. Dinar disebutkan di dalam QS 3:75, sedangkan dirham disebutkan di dalam QS 12:20. Namun, apakah pengertian dari dinar dan dirham di dalam Al Quran adalah sebagaimana pengertian dinar dan dirham yang kita kenal saat ini, yaitu dinar merupakan koin emas, sedangkan dirham adalah koin perak? Nampaknya TIDAK.

Di dalam QS 3:75 disebutkan, “Di antara Ahli Kitab ada yang jika engkau percayakan kepadanya harta yang banyak (qintar) niscaya dia akan mengembalikannya kepadamu. Tetapi ada juga di antara mereka yang jika engkau percayakan kepadanya satu dinar, dia tidak akan mengembalikannya kepadamu kecuali jika engkau selalu menagihnya ….”
Dalam pemahaman saya, dinar dalam ayat ini adalah lawan kata dari qintar atau harta yang banyak. Oleh karena itu, dinar di sini menurut saya mengacu kepada sesuatu yang nilainya sedikit atau tidak begitu bernilai. Nah, kalau dinar di sini ditafsirkan sebagai 1 dinar emas, maka menurut saya penafsiran tersebut kurang tepat. Karena di dalam tradisi Islam, dikatakan bahwa seorang sahabat Ahli Suffah terancam akan diazab di neraka hanya gara-gara ia menyimpan 1 dinar di dalam sarungnya. Dalam fikih Islam pun dikatakan bahwa seorang pencuri akan dipotong tangannya jika ia mencuri sesuatu yang nilainya ¼ dinar emas atau lebih. Dengan demikian, 1 dinar emas, bahkan seperemapt dinar emas pun sudah dianggap sebagai sesuatu yang bernilai yang cukup tinggi, dan saya rasa ini kurang tepat jika dianggap sebagai lawan kata dari qintar atau harta yang banyak.

Yang menarik adalah bahwa beberapa terjemahan Al Quran dalam bahasa Inggris menerjemahkan kata “dinar” dalam ayat di atas sebagai silver coin. Yusuf Ali, Muhsin Khan, dan Sahih International adalah beberapa contoh terjemahan Al Quran berbahasa Inggris yang menerjemahkan dinar menjadi silver coin atau koin perak. Berikut saya kutip terjemahan QS 3:75 menurut Muhsin Khan, “Among the people of the Scriptureis he who if entrusted with a Cantar (a great amount of wealth etc) will readily pay it back, and among them there is he who if entrusted with a single silver coin will not repay it unless you constantly stand demanding ….”
Saya pribadi setuju dengan ketiga terjemahan yang saya sebutkan di atas bahwa seyogyanya dinar dalam ayat QS 3:75 diterjemahkan sebagai silver coin atau koin perak. Hal ini antara lain karena saya percaya bahwa kata “dinar” berasal dari “denarius” yaitu koin perak yang digunakan oleh bangsa Romawi. Koin denarius pada mulanya beratnya adalah 4,55 gram. Kemudian sekitar tahun 200 SM standar berat dari 1 denarius turun menjadi sekitar 3,9 gram.

Jika dinar di dalam Al Quran berarti koin perak (yang beredar pada zaman Nabi), lalu apakah arti dari dirham menurut Al Quran?

Kata dirham di dalam Al Quran disebutkan di dalam Surah Yusuf ayat 20 sebagai berikut, “Dan mereka menjual Yusuf dengan harga rendah, yaitu beberapa dirham saja ….”
Beberapa terjemahan berbahasa Inggris menerjemahkan dirham dalam QS 12:20 ini sebagai silver coins, namun menurut saya terjemahan tersebut tidak tepat.
Kalau kita menelusuri catatan sejarah, maka kita akan mengetahui bahwa menurut para sejarah-wan , perak yang digunakan sebagai alat pembayaran dalam bentuk koin baru ada pada sekitar abad 600SM atau sekitar seribu tahun setelah masa Nabi Yusuf. Dengan kata lain, di masa Nabi Yusuf belum ada koin perak yang ter-standar, dan dengan demikian belum ada istilah koin perak dirham dan koin emas dinar. Begitu juga belum ada koin drachma maupun denarius. Sehingga saya percaya bahwa kata dirham dalam QS 12:20 bukanlah berarti koin perak dirham, dan juga bukan koin perak drachma.
Lalu apakah maksud dari kata dirham dalam QS 12:20 tersebut?
Saya percaya bahwa kata dirham dalam QS 12:20 bertalian erat dengan kata dram, yaitu satuan unit berat atau unit of mass. Menurut Wikipedia, dram (unit) mengacu kepada satuan berat (unit of mass) dalam sistem avoirdupois, dan satuan berat maupun satuan volume dalam sistem apothecaries.
Dengan demikian saya percaya bahwa kata dirham yang dimaksud dalam QS 12:20 bukan berarti koin perak dirham melainkan satuan berat dram untuk mengukur perak. Kalau di zaman umat Israel, mungkin kita mengenalnya sebagai syikal (shekel), sedangkan di masa kini mungkin seperti  gram atau ons. Dengan demikian, menurut saya ayat tersebut bahwa Nabi Yusuf dijual dengan harga murah, yaitu setara dengan beberapa gram perak saja lho, tidak sampai 1 kilogram perak.

Kembali ke topik, jika dinar di dalam Al Quran berarti koin perak denarius, sedangkan dirham di dalam Al Quran berarti satuan berat dram, lalu apakah yang dimaksud dengan istilah dinar dan dirham pada zaman Nabi?

Menurut logika sederhana, semestinya dinar itu berasal dari kata denarius yaitu koin perak yang digunakan oleh bangsa Romawi, sedangkan dirham berasal dari kata drachma, yaitu koin perak yang digunakan oleh bangsa Yunani kuno. Namun masalahnya adalah baik denarius maupun drachma adalah sama-sama koin perak, yang beratnya pun hampir sama. Jika 1 drachma beratnya adalah sekitar 4,3 gram, maka 1 denarius beratnya berkisar antara 3,4 ~ 4,55 gram. Nilai 1 drachma maupun 1 denarius di masa lalu pun hampir sama, yaitu setara dengan upah seorang pekerja di dalam satu hari. Nah, jika drachma dan denarius mengacu kepada suatu hal yang pada hakikatnya hampir sama, lalu kenapa dinar dan dirham di dalam Islam mengacu kepada sesuatu yang berbeda?

Dalam buku A Free Nation Deep in Debt: The Financial Roots of Democracy oleh James MacDonald saya menemukan sesuatu yang menarik. Berikut saya kutipkan dari buku tersebut:
“The drachma and the denarius were small silver coins. The Roman denarius was copied from the drachma, and under the Roman Empire, drachma was merely the Greek word for denarius….” (p.478)
Pada masa Kerajaan Romawi, dirham merupakan kata Yunani untuk dinar!

Selanjutnya di dalam buku tersebut juga dijelaskan tentang koin emas atau gold coins.
Gold Coins. These were based on the late Roman/Byzantine solidus, which weighed 4.55 grams of gold at the time of its introduction in the fourth century A.D. Because its weight was not far different from that of the old silver denarius, it was sometimes referred to as the gold denarius. When much of the Eastern Empire was conquered by the Muslims, this coin was retained by the new rulers and was the word denarius transmuted into dinar ….” (Sumber: A Free Nation Deep in Debt: The Financial Roots of Democracy by James MacDonald p.478)

Saya percaya bahwa dinar emas di dalam Islam berasal dari solidus, yaitu koin emas bangsa Romawi yang terkadang disebut juga sebagai gold denarius atau dinar emas. Adapun berat dari 1 solidus atau 1 dinar emas ini pada mulanya sekitar 4,55 gram.

Kesimpulan

Saya percaya bahwa dinar di dalam dunia Islam berasal dari solidus atau gold denarius, di mana berat dari 1 dinar semestinya sama dengan 4,55 gram (atau bahkan lebih). Sedangkan dirham di dalam Islam berasal dari koin perak denarius, di mana berat dari 1 koin perak denarius mungkin sekitar 3,4 atau 3,9 gram. Dengan demikian, menurut saya standar berat koin dinar emas dinar dan koin perak dirham pada masa kini yaitu masing-masing 4,25 gram dan 2,975 gram tidak sesuai dengan yang seharusnya yaitu 4,55 gram dan 3,4 atau 3,9 gram. Wa Allahu a’lam.

Selasa, 04 Juli 2017

Saatnya Membeli Perak

Dikutip dari YouShouldBuyGold.com

Alkitab (the Bible) menyediakan catatan sejarah akan hubungan alami antara emas dan perak, di mana rasio normalnya adalah 1:15.Ketika syikal digunakan sebagai standar berat, nilai dari satu syikal perak biasanya sekitar 1/15 nilai satu syikal emas.
Menurut scholars, rasio emas dan perak ketika Daud menjadi Raja adalah 1:12, sementara pada masa Hizkia adalah 1:10. Sedangkan di Yunani tadinya rasio-nya adalah 1:13, sebelum Alexander Yang Agung menetapkannya menjadi 1:10. Pada masa Republik Romawi, rasionya adalah 1:12.
Di Eropa, hingga tahun 1492, rasio emas dan perak adalah 1:10, kemudian pada tahun 1492 hingga 1834, rata-rata rasio berubah menjadi 1;15. Sementara Inggris menetapkan rasio 1:16, sedangkan Napoleon menetapkan rasio 1:15,5.
Pada tahun 1792, kongres Amerika Serikat di bawah presiden George Washington menetapkan rasio emas terhadap perak pada 1:15.
Dalam bukunya the Wealth of Nations, Adam Smith menyatakan, “ Satu ons emas pada umumnya dapat membeli 14 sampai 15 ons perak”
Rasio emas terhadap perak di seluruh dunia pada tahun 1980 sekitar 1:16, sementara rasio emas dan perak pada saat ini (internasional) adalah sekitar 1:70! [Sedangkan di Indonesia, sekitar 1:50]



Mengingat rasio perak terhadap emas pada saat ini sangat merosot jika dibandingkan beberapa abad yang lalu, yaitu ketika uang kertas belum digunakan secara umum, maka menurut saya, saat ini adalah saat yang tepat untuk membeli perak, sebelum harganya kembali “normal” seperti zaman dahulu.

Minggu, 02 Juli 2017

Beriman kepada Kitab Sebelum Al Quran

"Hai orang-orang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasulnya dan kepada Kitab yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya dan kepada Kitab yang diturunkan sebelumnya...." QS 4:136
Kira-kira setahun yang lalu, saya sempat dibikin bingung oleh ayat ini. Yang membuat saya bingung adalah karena kita orang beriman diperintahkan untuk beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah sebelum Al Quran. Permasalahannya adalah karena kata "Kitab" dalam frase "kitab sebelum Al Quran" adalah dalam bentuk tunggal (singular), padahal kita mengenal beberapa Kitab sebelum Al Quran  yaitu (kitab) Taurat, Injil, Zabur, dan kitab-kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi yang tidak disebutkan nama kitabnya di dalam Al Quran. Nah, jika kata "Kitab" dalam "Kitab sebelum Al Quran" berbentuk tunggal, maka akan timbul pertanyaan, kitab apakah gerangan yang dimaksud dalam ayat di atas. Apa iya kita diperintahkan untuk beriman kepada kitab Injil saja, misalnya, tetapi tidak perlu beriman kepada Taurat dan Zabur; atau sebaliknya. Jika demikian, saya merasa bahwa umat ini akan menjadi seperti orang-orang yang membagi Kitab Allah sebagaimana disitir di dalam ayat QS 15:90-91.

Dugaan terbaik saya pada saat itu adalah bahwa yang dimaksud dengan "Kitab yang diturunkan sebelum Al Quran" adalah kitab yang diturunkan kepada nabi Musa atau yang selanjutnya akan saya sebut sebagai "Kitab Musa". Dalilnya antara lain adalah QS 11:17 dan QS 46:12.

Namun, saya berkeyakinan bahwa "Kitab Musa" di sini tidaklah sama dengan Taurat. Karena saya menyadari bahwa kalau kita meneliti Al Quran, tidak ada satu pun ayatnya yang menyatakan bahwa Allah menurunkan Taurat kepada nabi Musa. Dalam sebagian ayatnya memang dinyatakan bahwa Allah memberikan (sebuah) Kitab kepada Nabi Musa, sedangkan di ayat lain memang dinyatakan bahwa Allah menurunkan Taurat. Namun, tidak sekalipun ayat Al Quran menyatakan bahwa Allah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa. (Ini berbeda dengan Injil misalnya di mana memang dinyatakan di dalam Al Quran bahwa Allah memberikan Injil kepada nabi Isa.)

Hal ini membuat saya percaya bahwa Kitab Musa dan Taurat adalah dua hal yang berbeda.
Saya menduga keras bahwa yang dimaksud dengan Kitab Musa adalah Sepuluh Perintah (the Ten Commandments) dan atau ditambah dengan Kitab Perjanjian (the Covenant Code). Pendeknya, saya percaya bahwa yang dimaksud dengan "Kitab Musa" adalah apa yang tertulis di dalam Kitab Keluaran (Exodus) Pasal 20 sampai dengan Pasal 23.

Namun kemudian saya menyadari bahwa terkadang bentuk tunggal dan bentuk jamak di dalam beberapa ayat Al Quran tidak selalu bersifat mutlak. Saya teringat uraian Bapak Quraish Shihab dalam buku beliau Mukjizat Al Quran di mana menurut beliau kata "anak / thifl" antara lain di dalam ayat QS 24:31 berbentuk tunggal padahal maksudnya adalah jamak. Hal ini disebabkan karena sifat "anak" dimana-mana adalah sama. Jadi, anak dalam bentuk tunggal di sini untuk menunjukkan kesamaan sifat umum dari seorang anak. Analogi lain adalah ayat kedua dalam surat wal Ashri dimana dinyatakan bahwa manusia (bentuk tunggal) berada dalam kerugian, yaitu untuk menunjukkan manusia pada umumnya.
Penjelasan lain juga terdapat di dalam QS 3:119, "dan kamu beriman kepada Kitab semuanya", dimana di dalam ayat ini kata "Kitab" juga dalam bentuk tunggal. Hal ini akan semakin tampak jika kita memeriksa beberapa terjemahan Al Quran berbahasa Inggris untuk ayat QS 3:119 ini dan juga untuk ayat QS 4:136.
Beberapa terjemahan Al Quran berbahasa Inggris menerjemahkan bil Kitabi kullihi dalam ayat QS 3:119 sebagai the Books atau the Scriptures (plural), sedangkan terjemahan lainnya menerjemahkannya sebagai the Book dalam bentuk tunggal. Hal ini bukan merupakan masalah, apakah kata kitab diterjemahkan sebagai bentuk tunggal maupun bentuk jamak, karena kitab-kitab tersebut, walaupun banyak, namun ia tetap dianggap sebagai satu kesatuan.
Hal senada juga bisa kita lihat dalam terjemahan Al Quran Surah 4:136 menurut Mufti Taqi Usmani dan Dr Mustafa Khattab (the Clear Quran) yang menerjemahkan kata "Kitab" dalam bentuk jamaknya (the Books atau the Scriptures). Begitu juga dengan QS 42:15, dimana kata "Kitab" dalam kalimat "Kami beriman kepada Kitab semuanya" juga dalam bentuk tunggal, walaupun maksudnya adalah jamak.

Dengan demikian, walaupun kata "Kitab" dalam ayat QS 4:136 di atas berbentuk tunggal, namun sesunguhnya ia menunjuk kepada satu paket Kitab Allah yang dianggap sebagai satu kesatuan. Hal ini bisa dibuktikan antara lain di dalam QS 5:66 dan 5:68 bahwa beriman kepada Taurat dan Injil itu pada hakikatnya adalah satu paket yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Seseorang tidak sempurna imannya jika misalnya dia beriman kepada Injil saja akan tetapi ingkar kepada Taurat, sedangkan di dalam Injil sendiri (maupun di dalam Al Quran) dinyatakan bahwa Yesus atau Nabi Isa membenarkan Taurat. "Injil" disebut sebanyak 12 kali di dalam 12 ayat Al Quran yang berbeda, dimana di dalam 10* dari 12 ayat tersebut juga disebutkan "Taurat", semakin membuktikan bahwa terdapat kaitan yang erat antara Injil dan Taurat, sehingga saya berkeyakinan bahwa jika seseorang beriman kepada Injil maka dia harus beriman juga kepada Taurat.
Demikian juga seorang Ahli Kitab tidak akan lengkap imannya jika dia hanya percaya kepada Taurat saja sementara dia ingkar kepada Injil.

Kemudian kalau kita kaji kembali ayat QS 4:136 di atas, kita dapat melihat bahwa kata Rasul pun juga dalam bentuk tunggal. Padahal, salah satu rukun iman kita sebagai orang beriman adalah beriman kepada nabi-nabi dan rasul-rasul (jamak). Jangan sampai umat Islam seperti umat Yahudi terdahulu yang beriman kepada sebagian rasul, tetapi menolak sebagian rasul yang lain sebagaimana disinggung di dalam QS 4:150.  Umat Islam tidak bisa beriman kepada Nabi Muhammad saja tetapi ingkar kepada Nabi Isa atau Nabi Musa, misalnya. "Kami tidak membedakan seorangpun di antara Rasul-rasul-Nya" (QS 2:285).

Kesimpulan Sementara
Walaupun kata "kitab" dalam frase "kitab sebelum Al Quran" dalam ayat 4:136 berbentuk tunggal, namun sebenarnya ia merujuk kepada satu paket Kitab yang diturunkan Allah sebelum Al Quran yang meliputi, tetapi tidak terbatas pada, Taurat dan Injil. Dengan demikian, saya percaya bahwa di dalam ayat 4:136 ini kita diperintahkan untuk beriman kepada Taurat, Injil, dan Quran, atau kitab-kitab yang disebut di dalam QS 9:111.
Namun, perlu saya tambahkan bahwa Taurat di sini tidak identik dengan Pentateuch, sedangkan Injil tidak sama dengan Injil Perjanjian Baru. Saya percaya bahwa yang dimaksud dengan Taurat di dalam Al Quran adalah kitab Taurat yang asli yang kemungkinan serupa dengan Shapira Manuscript, sedangkan Injil yang asli kurang lebih serupa dengan Injil Ibrani atau Q Gospel.

Katakanlah: Kami beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Abraham, Ismail, Ishak, Yakub dan anaknya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan kepada apa yang diberikan kepada Nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan satu pun darinya dan kami termasuk orang yang berserah diri. (QS 2:136, 3:84)

Catatan kaki:
*Sepuluh ayat yang dimaksud adalah QS 3:3, 3:48, 3:65, 5:46, 5:66, 5:68, 5:110, 7:157, 9:111, dan 48:29.

Edited Version: 22 Mei 2019
Diantara Kedua Tangan
Di dalam beberapa ayat Al Quran disebutkan bahwa Al Quran membenarkan [kitab sebelumnya], atau kalau dalam bahasa aslinya disebutkan mushaddiqallimaa baina yadaihi atau kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti Al Quran membenarkan apa yang ada di antara kedua tangannya. Beberapa waktu lamanya saya mencoba mencerna kenapa Al Quran menggunakan frase tersebut: di antara kedua tangan. Salah satu pertanyaan yang timbul di dalam pikiran saya, tangan siapakah yang dimaksud? Tadinya saya ingin menanyakan pertanyaan tsb kepada orang yang saya anggap lebih ahli dalam urusan tafsir Al Quran, namun sebelum saya bertemu dengan orang yang saya anggap ahli tsb nampaknya pertanyaan tsb telah terjawab sendiri. Di dalam ayat Al Quran yang lain ternyata juga disebutkan ayat yang serupa, mushaddiqallima baina yadayya yang berarti membenarkan apa yang ada di antara kedua tanganku. Yang mengucapkannya adalah Nabi Isa alaihis salam.
Dari ayat tsb timbul pemikiran baru dalam benak saya bahwa kitab yang dibenarkan oleh Al Quran adalah kitab yang dipegang oleh Nabi Isa Al Masih. Bukan tidak mungkin bahwa jika Al Masih datang kembali ke dunia ini, beliau akan membawa kitab suci Taurat [dan Injil] yang asli, dan kitab yang dipegang oleh Al Masih itulah yang dimaksud sebagai kitab yang dibenarkan oleh Al Quran. Wa Allahu a'lam.

Minggu, 11 Juni 2017

Dinar dan Dirham di dalam Alkitab dan Al Quran

Tadinya saya berpikir bahwa dinar dan dirham adalah dua koin yang berbeda. Tadinya saya berpikir bahwa dinar itu adalah koin emas, sedangkan dirham itu adalah koin perak. Tetapi setelah saya baca-baca wikipedia dan situs lain, nampaknya saya menyadari kekeliruan saya, khususnya mengenai dinar. Kalau kita membaca Alkitab, dan atau kalau kita membaca wikipedia, kita akan mengetahui bahwa dinar itu berasal dari kata denarius, yang sebenarnya adalah koin perak juga. Namun, sedikit berbeda dengan drachma yang "made in Yunani", maka denarius adalah "made in Romawi". Dikatakan bahwa  nilai dari satu drachma maupun satu denarius itu hampir sama, yaitu setara dengan upah seorang tukang dalam sehari.

Dinar dan Dirham di dalam Alkitab
Dalam Alkitab, dinar disebut beberapa kali, antara lain dalam Matius 22:19, yaitu ketika orang-orang Yahudi ingin menguji Yesus, apakah boleh membayar pajak kepada penguasa (kaisar). Dalam kesempatan tersebut, Yesus minta dibawakan satu koin dinar kepadanya, dan melihat gambar siapakah yang ada pada koin dinar tersebut.
Sedangkan dalam bagian lain di dalam Kitab Perjanjian Baru, satu dinar digambarkan sebagai upah seorang buruh dalam sehari.

Sedangkan dirham atau drachma, walaupun disebutkan beberapa kali dalam terjemahan Alkitab, termasuk versi LAI, namun menurut situs bible.ca yang saya baca, sebenarnya dirham dalam pengertian drachma sebagai koin perak buatan Yunani hanya disebut satu kali saja di dalam Alkitab, yaitu pada ayat Lukas 15:8. Menurut situs tersebut, drachma adalah koin yang tidak biasa di masa Yesus, karena drachma dari Yunani telah lama digantikan oleh dinar (denarius) dari Romawi tersebut. Adapun dalam kisah yang terdapat dalam Lukas 15:8 itu tentang seorang wanita yang memiliki sepuluh koin drachma, diduga bahwa koin drachma tersebut merupakan warisan dari ibu si wanita tersebut. Hal ini bisa menjelaskan kenapa terdapat koin drachma dalam kitab Lukas, walaupun koin drachma sudah lagi tidak beredar di masa Yesus.

Dalam ayat Perjanjian Baru yang lain selain ayat Lukas 15:8 versi beberapa terjemahan,  memang disebutkan juga kata drachma atau dirham dalam beberapa ayat lain seperti di ayat Mat 17:24. Namun, menurut situs bible.ca tersebut, sebenarnya yang dimaksud adalah koin syikal dari Tyrus (Tyrian shekel) yang nilainya hampir sama dengan tetradrachm. Hal ini bisa menjelaskan kenapa sebagian terjemahan Alkitab tidak menggunakan istilah drachma melainkan menggunakan istilah shekel dalam terjemahannya. Berikut ini adalah contoh beberapa terjemahan bahasa Inggris untuk ayat Matthew 17:24
When they arrived in Capernaum, the collectors of the half-shekel [temple tax] went up to Peter and said, “Does not your teacher pay the half-shekel?” (AMP)
When they came to K’far-Nachum, the collectors of the half-shekel came to Kefa and said, “Doesn’t your rabbi pay the Temple tax?” (CJB)
When they came to Caper′na-um, the collectors of the half-shekel tax went up to Peter and said, “Does not your teacher pay the tax?” (RSV)

versus

And when they came to Capernaum, those who received the didrachmas came to Peter and said, Does your teacher not pay the didrachmas? (DARBY)
And they having come to Capernaum, the ones taking the double-drachmas came to Peter and said, “Does not your teacher pay the double-drachmas?” (DLNT)
When they came to Capernaum, the collectors of the two-drachma tax went up to Peter and said, “Does your teacher not pay the tax?” (ESV)

Aslinya dalam Kitab Keluaran 30:13-15, persembahan yang dimaksud adalah setengah syikal atau kurang lebih sekitar 6 gram perak. Namun, pada masa tersebut orang Yahudi tidak mencetak atau tidak mengeluarkan koin perak sendiri, melainkan hanya menggunakan mata uang dari bangsa lain, yakni Tyrian Shekel. Konon, tyrian shekel inilah yang digunakan oleh orang Yahudi secara resmi sebagai Bea masuk ke Bait Allah. Adapun satu tyrian shekel itu dianggap setara dengan tetradrachm ( 4 drachma) dan satu tyrian shekel beratnya sekitar 14 gram. Maka setengah tyrian shekel itu dianggap setara dengan dua drachma. Maka isitilahnya menjadi berbeda, tidak lagi setengah syikal melainkan dua drachma. Adapun berat dari dua drachma inilah yang paling mendekati setengah syikal (walaupun tidak sama persis).

Dinar dan dirham di dalam Al Quran
Kata dinar dan dirham masing-masing hanya disebutkan sekali di dalam Al Quran. Dinar disebutkan di dalam QS 3:75, sedangkan dirham disebutkan di dalam QS 12:20. Namun kalau saya baca kedua ayat tersebut, pengertian dinar dan dirham di dalam Al Quran sepertinya berbeda dengan pengertian dinar dan dirham yang selama ini kita kenal. (Selama ini kita mengenal dinar sebagai koin emas, sedangkan dirham adalah koin perak).

Dinar di dalam QS 3:75
Beberapa terjemahan Al Quran menerjemahkan "dinar" dalam ayat ini sebagai (koin) emas, namun tidak semuanya. Yang menarik adalah beberapa terjemahan Al Quran berbahasa Inggris menerjemahkan kata "dinar" dalam ayat ini sebagai koin perak atau silver coin! Berikut ini adalah beberapa terjemahan yang saya maksud:
"And among the People of the Scripture is he who, if you entrust him with a great amount [of wealth], he will return it to you. And among them is he who, if you entrust him with a [single] silver coin, he will not return it to you unless you are constantly standing over him [demanding it]." (Sahih International)
... and among them there is he who, if entrusted with a single silver coin, will not repay it .... (Muhsin Khan)
... others, who, if entrusted with a single silver coin, will not repay it .... (Yusuf Ali)

Dalam ayat QS 3:75 saya pribadi cenderung kepada ketiga terjemahan di atas yang menerjemahkan "dinar" sebagai koin perak atau silver coin, bukannya koin emas. Alasannya karena satu dinar dalam ayat tersebut semestinya dimaksudkan sebagai lawan kata qantar atau harta yang banyak, sehingga dinar dalam ayat di atas semestinya menunjukkan sesuatu yang nilainya sedikit atau tidak terlalu tinggi. Kalau dinar diterjemahkan sebagai satu dinar emas, maka menurut saya nilai satu dinar emas itu pun sudah cukup tinggi nilainya bagi sebagian orang. Bahkan sebagian dari Ahli suffah terancam masuk neraka hanya gara-gara menyimpan satu dinar emas dalam sarungnya.
Akan lebih masuk akal jika dinar dalam ayat tsb diatas diterjemahkan sebagai koin perak, karena sekeping koin perak tidaklah terlalu tinggi nilainya.

Dirham di dalam Al Quran
Sedangkan dirham disebutkan dalam surah Yusuf ayat 20, dimana Yusuf dijual (sebagai budak) hanya dengan harga beberapa dirham saja. Beberapa terjemahan Al Quran menerjemahkan dirham dalam ayat di atas sebagai beberapa (keping) koin perak, namun menurut saya terjemahan tersebut kurang tepat. Ada suatu tulisan dari seorang non-muslim di internet yang menyatakan ketidakpercayaannya kepada Al Quran hanya gara-gara membaca terjemahan semacam ini. Menurut dia (dan juga menurut wikipedia dan beberapa sumber dari internet lainnya), koin perak belum digunakan orang pada masa Nabi Yusuf. Koin perak baru digunakan sekitar abad ke-5 Sebelum Masehi. Oleh karena itu, saya pun merasa kurang tepat jika kata dirham dalam ayat tsb diterjemahkan sebagai koin perak.
Kemudian saya membaca wikipedia dan saya temukan bahwa istilah dalam satuan unit berat juga ada yang namanya Dram, selain istilah "drachma". Dikatakan bahwa istilah Dram asalnya merupakan koin dan juga sekaligus ukuran berat (unit of mass). Satu unit dram Yunani beratnya sekitar 4,3 gram, sedangkan satu unit dram Romawi beratnya sekitar 3,4 gram. Di atas dram, terdapat satuan lain yang namanya mina, dimana satu mina itu adalah 70 dram atau 100 dram.
Satu keping koin perak yang beratnya satu dram disebut dengan istilah stater.

Nah, dalam ayat di atas menurut saya dirham yang dimaksud adalah menunjukkan satuan berat (unit of mass) yang kurang lebih seberat 4.3 gram. Ini seperti kita mengatakan bahwa Nabi Yusuf hanya dijual senilai beberapa gram perak saja. Istilah "beberapa" dalam frase "beberapa gram" untuk menunjukkan bahwa nilainya tidak mencapai 1 kilogram perak. Dengan demikian, istilah "beberapa dram" atau "beberapa dirham" untuk menunjukkan bahwa  nilainya tidak mencapai 1 mina. (Di dalam Alkitab ada tertulis bahwa Nabi Yusuf dijual dengan harga 20 syikal perak, atau kurang dari setengah mina nilainya).

Dengan demikian, walaupun di Al Quran menyebut kata "dinar" dan "dirham", namun pengertiannya berbeda dari dinar dan dirham yang kita kenal selama ini. Jika dirham di dalam Al Quran merupakan satuan berat (unit of mass), maka dinar adalah apa yang selama ini kita sebut sebagai dirham atau koin perak yang nilainya kurang lebih hampir sama dengan satu drachma.
wa Allahu a'lam.

Rabu, 07 Juni 2017

Jangan Membuat Bagimu Berhala Apapun

Dalam Alkitab terjemahan LAI, perintah di atas diterjemahkan sebagai "Jangan membuat bagimu patung apapun yang ada di langit di atas atau yang ada di bumi di bawah... "

Sedangkan dalam Alkitab berbahasa Inggris klasik, larangan di atas diterjemahkan sebagai, "Thou shalt not make unto thee any graven image"

Kemudian, kalau kita cari arti kata dari "graven image" di kamus merriam-webster, maka akan kita dapatkan bahwa graven image berarti " an object of worship carved usually from wood or stone :  idol"

Definisi yang hampir sama juga diberikan oleh English Language Learner : an object (such as a statue) that is worshipped as a god or in place of a god

Dari definisi di atas dapat kita ketahui bahwa larangan membuat "patung" dalam sepuluh Perintah Tuhan sebenarnya bukan larangan membuat gambar atau patung, melainkan larangan untuk membuat patung yang akan digunakan untuk disembah. Pendeknya, itu adalah larangan untuk membuat berhala.

Dengan demikian, yang saya tangkap adalah bahwa larangan tersebut bukanlah larangan untuk membuat semua gambar atau patung seperti gajah, kangguru, koala, burung, panda, ikan dll; namun larangan tersebut adalah larangan untuk membuat gambar atau patung berhala. Dalam hal ini adalah misalnya larangan untuk membuat gambar/pahatan/patung Baal, Zeus, Osiris dll.
wa Allahu a'lam.


Senin, 29 Mei 2017

Top 10 Koin Perak Terfavorit

Setelah beberapa minggu saya memiliki koin perak dari berbagai negara, saya menyusun Top 10 list koin perak terfavorit menurut saya. Urutan di sini sifatnya subyektif dan ada kemungkinan bahwa urutan ini bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu.

10. American Silver Eagle
Tak diragukan lagi bahwa desain dari American Silver Eagle ini sangat menarik. Bahkan sebagian orang menilai bahwa desain dari "Walking Liberty" merupakan salah satu desain koin paling menarik di dunia. Walaupun desain dari ASE ini merupakan salah satu desain yang paling bagus, namun saya hanya menempatkannya di urutan ke sepuluh. Selain karena koin American Silver Eagle ini sangat umum (pasaran), juga terutama karena saya pernah melihat video di youtube yang menampilkan koin ASE palsu namun secara penampilan sangat mirip dengan yang asli. Artinya, walaupun desain ASE ini sangat menarik, namun ia tidak terlalu kaya dalam hal detail sehingga tidak terlalu sulit untuk dipalsukan.

9. Austrian Philharmonic
Philharmonic memberikan detail yang kaya pada kedua sisi koinnya. Pada sisi Observe, kita bisa melihat gambar Gedung yang kalau kita amati lebih lanjut dengan menggunakan sebuah loupe, kita bisa melihat berbagai patung dan ukiran pada gedung tersebut.
Pada sisi Reverse kita bisa melihat aneka alat musik instrumentalia dan detailnya yang mengagumkan. Ada yang mengatakan bahwa detail yang kaya dari Austrian Philharmonic ini membuatnya sulit untuk ditiru. Namun, berhubung dari seluruh koin perak Philharmonic yang saya miliki tidak ada satupun yang kinclong, membuat saya hanya menempatkan koin ini di posisi ke sembilan.

8. Canadian Maple Leaf
Tidak diragukan lagi bahwa Silver Maple Leaf merupakan salah satu desain koin perak yang paling rumit dan keren. Adanya radial lines pada koin Maple Leaf ini membuatnya sulit untuk diduplikat. Begitu juga halnya dengan ukiran angka berukuran kecil yang menunjukkan tahun pembuatan koin bersangkutan. Belum lagi detail dari Maple Leaf itu sendiri yang sangat kaya. Namun, saya hanya menempatkan Maple Leaf di posisi kedelapan tidak lain dan tidak bukan karena Silver Maple Leaf sangat rentan terhadap "penyakit" yang namanya milk spot. Beberapa koin Maple Leaf saya sudah menjadi korban dari milk spot ini membuat perasaan kagum saya terhadap Silver Maple Leaf sedikit banyak menurun.

7. Armenian Noah's Ark
Terus terang yang membuat saya merasa takjub dengan koin perak Noah's Ark ini sehingga saya meletakkannya di atas beberapa koin terkenal seperti American Silver Eagle, Maple Leaf, dan Philharmonic bukanlah karena koin standarnya yang berukuran 1 oz melainkan karena koin pecahannya yang berukuran 1/2 oz dan 1/4 oz. Mengapa? Selain karena pecahan 1/2 oz dan 1/4 oz kelak di kemudian hari kemungkinan akan lebih dibutuhkan daripada koin 1 oz, terutama karena detail yang mengagumkan pada koin ukuran pecahan ini. Pada koin 1/4 oz misalnya, kita hanya bisa melihat apa yang tertulis dalam koin ini jika kita menggunakan loupe. Setelah saya melihat koin 1/4 oz ini dengan menggunakan sebuah loupe barulah timbul rasa kagum saya terhadap produsen dari koin Noah's Ark ini karena tulisan yang begitu kecil dan juga detail yang kecil namun dapat dibuat secara baik oleh produsennya.

6. Australian Kangaroo
Jika dilihat dari desainnya, sebenarnya koin perak Australian Kangaroo ini termasuk yang biasa-biasa saja. Yang membuat koin ini menjadi istimewa adalah karena ada security feature berupa huruf "A" berukuran mikro yang terletak pada kaki huruf A yang pertama dari kata "AUSTRALIAN KANGAROO". Huruf "A" berukuran mikro ini hanya bisa dilihat jika kita menggunakan sebuah loupe.

5. 2017 Britannia 20th Anniversary
Di tahun 2017 ini Silver Britannia menambahkan fitur baru berupa radial lines yang membuatnya lebih sulit untuk diduplikat. Bukan itu saja, khusus untuk seri anniversary, koin Britannia ini memiliki fitur lain berupa angka "20" berukuran super kecil yang terdapat dalam gambar trident yang kecil. Fitur ini semakin membuat koin Britannia 20th Anniversary ini semakin sulit untuk diduplikat.

4. Chinese Panda
Terus terang saya mengurutkan nomer 1 hingga nomer 4 sebagai berikut ini bukan karena desain koin-koin berikut ini lebih menarik atau lebih rumit daripada desain koin urutan kelima hingga kesepuluh, melainkan semata-mata karena desain koin urutan 1 hingga urutan keempat selalu berubah setiap tahun.
Di urutan keempat saya meletakkan Chinese Panda, yang walaupun koin ini indah dan cukup banyak detailnya, namun terdapat huruf berbahasa China yang saya tidak bisa membacanya. Lagipula, sebagian besar koin palsu yang beredar di pasaran konon katanya diduga berasal dari negara China membuat saya khawatir jangan-jangan koin Chinese Panda milik saya ini palsu juga, hehehe.

3. Australian Koala
Sebagaimana halnya dengan Chinese Panda, desain dari Silver Koala ini juga selalu berubah setiap tahun, membuatnya sebagai nilai tambah bagi para kolektor. Hal ini membuat harga pasaran dari koin Silver Koala cukup tinggi, melebihi harga rata-rata koin perak lain pada umumnya.

2. Australian Kookaburra
Sama seperti Koala, desain dari Kookaburra juga selalu berganti setiap tahun. Satu hal yang membuat saya meletakkan urutan Kookaburra di atas Koala adalah karena Silver Kookaburra memiliki sejarah yang lebih panjang daripada Silver Koala. Koin perak Kookaburra pertama kali diterbitkan pada tahun 1990 sedangkan Koala baru muncul pertama kali pada tahun 2007.

1. Somali Elephant
Sama halnya dengan ketiga koin sebelumnya, desain dari koin Elephant dari Somalia ini selalu berubah setiap tahunnya. Satu-satunya alasan yang membuat saya menempatkan koin perak Elephant ini di atas ketiga koin lainnya adalah karena koin perak ini sangat kinclong, yang membuat saya terpana dan jatuh hati sejak saya pertama kali melihat koin perak yang satu ini.

Honorable Mention:
Mexican Libertad
Mexican Libertad disebut-sebut sebagai salah satu koin perak terindah di dunia, namun saya tidak memasukkannya dalam Top 10. Alasannya adalah karena gambar dari koin Mexican Libertad ini yang agak vulgar, hehehe.

Minggu, 28 Mei 2017

Mengecek Keaslian Koin Perak

Jika kita membeli koin perak dari ebay, tentu ada perasaan khawatir jika sebagian dari koin perak yang kita beli adalah palsu (counterfeit).
Nah, bagaimana cara untuk memastikan bahwa koin perak yang kita beli ada koin perak yang asli? Ada beberapa test untuk memastikannya.

Pertama, periksa detail dari koin perak
Well, sebenarnya cara ini tidak berlaku untuk seluruh koin perak, melainkan hanya sebagian silver coins (dan silver rounds) saja. Intinya begini, beberapa koin perak seperti Canadian Maple Leaf dan Australian Kangaroo memiliki detail yang kaya sehingga sangat sulit untuk ditiru atau dipalsukan. Pada koin Australian Kangaroo misalnya, terdapat huruf A berukuran mikro pada kaki huruf A yang pertama dari kata Australian Kangaroo. Huruf A berukuran mikro ini hanya bisa dilihat jika kita menggunakan loupe. Sedangkan Silver Round keluaran Sunshine Mint memiliki teknik tersendiri untuk memastikan keasliannya, yaitu terdapat kata "VALID" pada sisi belakang koin yang hanya bisa dilihat dengan menggunakan decoder lens khusus keluaran Sunshine Mint.
Namun, tidak semua jenis koin perak bisa dites menggunakan cara ini. American Silver Eagle misalnya, saya pernah melihat video di youtube yang menampilkan sebuah koin perak American Eagle palsu, yang menurut si pembuat video, koin palsu tersebut secara penampilan sulit dibedakan dengan koin yang asli.

Cara kedua adalah dengan mengukur berat dan dimensi dari koin perak
Perak memiliki massa jenis dan kerapatan (density) yang unik, sehingga sulit untuk ditiru. Misalnya jika seorang produsen ingin membuat koin perak dengan berat 31.1 gram namun menggunakan bahan selain perak, tentu dimensinya akan  berbeda dengan dimensi koin perak. Adapun dimensi masing-masing koin perak berbeda satu sama lain. Amercian Silver Eagle misalnya memiliki diameter 40.6 mm dengan ketebalan 2.98mm, sedangkan Canadian Maple Leaf memiliki diameter 38 mm dengan ketebalan 3.29mm. Untuk mengukur berat dan dimensi dari sebuah koin perak, kita memerlukan sebuah timbangan dan sebuah caliper.

Cara ketiga, test dengan menggunakan es batu
Dikatakan bahwa perak merupakan konduktor terbaik. Salah satu implikasinya adalah jika sebuah es batu diletakkan di atas sebuah koin perak, maka es batu tersebut akan cepat meleleh. Namun, untuk memastikan keaslian tes sebuah koin perak, ada baiknya jika tes ini dikombinasikan dengan tes yang lain.

Cara keempat, dengan menggunakan magnetic test
Perak merupakan salah satu logam yang tidak akan tertarik oleh sebuah magnet. Jika ada koin (mirip) perak namun ia menempel pada sebuah magnet, maka dapat dipastikan bahwa ia bukanlah koin perak. Namun, di sisi lain, perak merupakan suatu diamagnetic. Artinya, jika perak diluncurkan pada sebuah magnetic slide atau magnet besar yang dimiringkan, maka perak akan meluncur dengan perlahan. Jika suatu koin diluncurkan pada sebuah magnetic slide, namun ia menempel pada magnet,  atau meluncur dengan cepat ke bawah, maka dapat dipastikan bahwa itu bukan perak. Kalau perak asli, mestinya ia akan turun secara perlahan dalam magnetic slide. Seperti halnya dengan tes dengan menggunakan es batu, maka cara ini juga sebaiknya dikombinasikan dengan tes yang lain karena perak bukanlah satu-satunya logam diamagnetic yang tidak akan menempel pada sebuah magnet. Logam lainnya seperti tembaga (Copper) misalnya memiliki sifat yang hampir sama dengan perak, walaupun tembaga memiliki massa jenis dan kerapatan yang berbeda dengan perak.

SARAN
Jika anda terpaksa membeli koin perak, ada beberapa saran yang mesti dipertimbangkan.
1. Belilah koin perak dari seller yang memiliki reputasi yang baik.
2. Jangan tergoda untuk membeli koin perak dengan harga yang super murah.
3. Jika mungkin, belilah koin perak yang memiliki security feature yang sulit ditiru seperti Australian Kangaroo dan koin keluaran Royal Canadian Mint yang memiliki fitur radial lines yang konon sulit ditiru. Atau, belilah koin perak dalam pecahan seperti 1/4 oz Armenian Noah's Ark, karena kecil kemungkinan si pemalsu ingin membuat koin perak palsu dalam pecahan yang secara ekonomis tidak terlalu menguntungkan.

Senin, 15 Mei 2017

Antara Kebutuhan dan Keinginan

Sebenarnya secara teori saya sudah mengetahui bedanya antara Needs (Kebutuhan) dengan Wants (Keinginan). Namun pada praktiknya saya sering lupa dan tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan ini. Seperti baru-baru ini terjadi pada saya ketika saya keranjingan membeli koin perak (silver coins) dari ebay. Sekarang saya merasa bahwa sebagian transaksi yang saya lakukan di ebay sebenarnya bukan karena kebutuhan melainkan karena keinginan pribadi saya semata, dan sekarang saya agak menyesal dengan sebagian transaksi yang telah saya lakukan karena terdorong hawa nafsu tersebut.

Pada awalnya saya memang sudah merencanakan untuk membeli koin perak karena saya percaya bahwa saya akan membutuhkan koin perak tersebut di masa depan. Niat awal saya membeli koin perak bukanlah untuk berinvestasi supaya saya bisa menjadi kaya di masa depan, melainkan niatan saya semata-mata untuk survival purposes. Saya termasuk yang percaya bahwa pada suatu saat nanti teknologi modern akan lenyap dan orang akan kembali seperti ke zaman dahulu. Termasuk dalam bertransaksi. Kemungkinan kelak di masa depan orang akan kembali menggunakan koin perak dan koin emas untuk bertransaksi.

Pada awalnya saya sudah merencanakan bahwa saya "hanya" akan membeli koin perak kurang lebih sebanyak 20 troy ounce (20 oz) atau kalau dikonversi ke dalam gram sekitar 620 gram. Pertimbangan saya antara lain karena dengan memiliki koin perak seberat 20 oz tersebut saya sudah dianggap "kaya". Buktinya dengan koin perak sebanyak 20 oz tsb saya sudah wajib membayar zakatnya yang sekitar 1/2 oz. (Nisab perak sesuai fikih di Indonesia adalah sekitar 595 gram). Artinya jumlah koin perak seberat 20 oz nampaknya sudah cukup memadai untuk menopang kehidupan saya di masa depan yang tak menentu. Pada awalnya, saya sudah mencanangkan akan lebih banyak membeli koin perak dalam bentuk pecahan, seperti 1/4 oz atau 1/2 oz. Namun, karena beberapa faktor, rencana saya berubah. Karena satu dan lain hal, ternyata pada praktiknya saya lebih banyak membeli koin perak dalam satuan standarnya yaitu 1 oz dan saya terus melanjutkan pembelian saya ketika koin perak saya sudah melebihi 20 oz (sesuai rencana awal saya). Tanpa terasa saya sudah melakukan transaksi sedemikian rupa sehingga tagihan kartu kredit saya mencapai limitnya dan pada saat itulah saya baru berhenti membeli koin perak dan saya baru merasa menyesal karena telah melakukan pembelian koin perak jauh melebihi rencana awal saya sampai membuat tagihan kartu kredit saya membengkak. Saat ini saya sudah membeli koin perat sebanyak 80 oz, walaupun sebagian koin perak tsb sampai tulisan ini dirilis belum saya terima.

Kalau saya pikirkan kembali ada beberapa faktor yang membuat saya sampai terlena sehingga saya kalap membeli koin perak sebanyak-banyaknya.

Paranoid
Faktor pertama yang membuat saya lupa daratan dalam membeli koin perak adalah karena paranoid. Karena satu dan lain hal, saya percaya bahwa harga perak saat ini terbilang murah dibandingkan dengan harga emas. Nah, saya khawatir jika harga perak naik sewaktu-waktu. Bagaimana jika harga perak naik pekan depan? Bagaimana jika harga perak naik bulan depan? Bagaimana jika kurs rupiah terhadap dollar turun pekan depan? Bagaimana jika bulan depan terjadi bencana sehingga saya tidak sempat lagi membeli koin perak, dlsb. Nah, ketakutan-ketakutan seperti inilah yang antara lain membuat saya terburu-buru membeli koin perak sebanyak mungkin di ebay.

Tergoda untuk Memiliki Koin Kualitas Sempurna dengan Harga Premium
Bagi yang belum mengetahui perlu saya sampaikan bahwa koin perak baru yang tersedia di pasaran pada umumya adalah koin BU (Brilliant Uncirculated) yang tidak dinilai (ungraded). Namun, dalam proses produksi koin perak oleh produsennya dimungkinkan sebagian koin perak dalam keadaan mulus sempurna sedangkan sebagian lain terdapat goresan sedikit dsb. Sepertinya ini adalah hal yang tak terelakkan dalam produksi skala besar. Nah, saat ini ada dua lembaga yang menilai mulus tidaknya suatu koin. Kedua organisasi tersebut adalah PCGS dan NGC. Koin akan dianggap sempurna jika koin tersebut terlihat mulus tanpa goresan sedikitpun. Nah, koin sempurna dengan level tertinggi ini dinilai dengan grade MS70. Di bawah MS70 ada MS69 yang artinya bahwa koin tersebut hanya memiliki goresan kecil tak berarti tidak lebih dari 2 goresaan kecil. Di bawah MS69 ada MS68, MS67 dst. Semakin tinggi nilai MS suatu koin, semakin mahal harganya. Misalnya, jika koin standar American Silver Eagle berharga USD 25 di pasaran, maka American Silver Eagle dengan grade MS70 bisa seharga USD50, sedangkan American Silver Eagle kualitas MS69 seharga USD 40.
Nah, saya beberapa kali tergoda untuk membeli koin perak kualitas sempurna ini. Saat ini saya sudah membeli beberapa koin dengan grade MS70 dan dua koin dengan grade MS69. Yang pasti harga per koin kualitas MS70 dan MS69 lebih mahal daripada harga koin BU ungraded. Nah, yang membuat saya menyesal adalah karena setelah saya pikir-pikir lagi, pada akhirnya jika saatnya tiba koin perak kualitas MS70 tidak akan lebih mahal daripada koin perak ungraded yang ada di pasaran karena orang hanya akan melihat nilai berat dari perak yang ada di koin tersebut, bukan dari kesempurnaan atau kemulusan koin tersebut.

Tergoda Untuk Membeli Koin Limited-Edition dengan Harga Premium
Dalam kasus lain, saya membeli koin dengan harga premium karena kelangkaannya (limited edition). Salah satu contoh yang paling nyata adalah ketika saya membeli koin Silver Swan keluaran Perth Mint dengan harga USD 49. Koin silver swan tersebut disebut-sebut hanya diproduksi sebanyak 25.000 keping. Dengan uang senilai 49 dollar sebenarnya saya bisa membeli dua keping koin "pasaran" seperti American Silver Eagle dan atau Maple Leaf. Namun, karena keinginan saya yang begitu kuat untuk membeli Silver Swan, maka nafsu saya mengalahkan logika saya sehingga jadilah saya membeli sekeping Silver Swan dengan harga yang terbilang mahal. Koin lain yang saya beli dengan harga di atas harga pasaran antara lain Australian Koala, Australian Kookaburra, dan Chinese Panda.

Yang membuat saya menyesal membeli koin perak dengan  harga premium adalah belakangan ini setelah saya mengetahui bahwa koin perak ternyata rentan terhadap noda yang disebut sebagai milk spot. Bahkan koin perak yang disegel sedemikian rupa pun tidak otomatis terbebas dari milk spot ini. Beberapa koin maple leaf saya menderita gejala milk spot ini, termasuk koin maple leaf MintDirect dari Apmex yang saya beli dalam keadaan tersegel, nampaknya tidak luput dari penyakit milk spot ini. Jika sudah demikian maka tidak ada artinya lagi koin premium ataupun grade MS70 dan MS69.

Tergoda karena auction
Satu hal lagi yang sering membuat saya lupa daratan dalam membeli koin perak adalah karena saya mengikuti beberapa auction (lelang) di ebay dan saya menang. Seringkali saya jumpai di ebay bahwa harga suatu koin perak pada suatu auction jauh lebih rendah daripada harga pasarannya. Misalnya kalau satu koin perak Silver Kookaburra dengan grade MS70 tahun 2017 di pasaran harganya bisa mencapai 50~60 dollar, maka pada saat auction -jika kita beruntung- kita bisa mendapatkannya dengan harga miring di bawah 40 dollar. Nah, beberapa kali saya ikut auction dengan harga miring tsb dan beberapa kali juga saya menang. Sekarang malah saya justru berharap seandainya saya tidak menang sesering sekarang, karena saya baru menyadari bahwa ternyata apa yang saya menangkan tidak terlalu saya butuhkan.

Keinginan untuk Melengkapi Koleksi Koin Perak dari Berbagai Negara
Diantara faktor-faktor yang menyebabkan saya membeli koin perak jauh melebihi anggaran awal saya (rencana membeli 20 oz, kenyataannya membeli 80 oz) maka alasan ini adalah alasan yang tidak terlalu saya sesali karena sampai sekarang pun saya tidak menyesal karena saya telah membeli berbagai koin terkenal dari berbagai negara seperti Amerika, Kanada, Austria, Australia, Inggris, Somalia, Armenia, Mexico dan China. In my defense, jika saya mengikuti perbincangan dalam suatu forum yang sedang mendiskusikan koin manakah yang lebih baik antara Maple Leaf dengan Philharmonic, misalnya, bagaimana saya bisa mengikuti diskusinya dan memberikan opini sendiri jika saya tidak pernah melihat koin silver maple leaf atau philharmonic.
Yang saya sesalkan adalah karena saya membeli koin tertentu dalam jumlah yang terlalu banyak. Saat ini saya merasa bahwa koleksi maple leaf dan philharmonic saya melebihi jumlah yang seharusnya. Cukup dua atau tiga koin dari suatu negara saya rasa sudah memadai.


Sabtu, 06 Mei 2017

Koin Perak Koleksiku

7. Philharmonic dari Austria






6. Noah's Ark dari Armenia



5.  Maple Leaf dari Kanada

4. 3/4 oz Wolf dari Kanada





3. American Silver Eagle


2. Kookaburra dari Australia





1. African Elephant dari Somalia





Beberapa foto koin di atas seperti Somalian Elephant dan Australian Kookaburra nampak berwarna hitam. Padahal aslinya koin tersebut  berwarna putih perak cemerlang. Kemungkinan warna hitam tersebut merupakan pantulan dari kamera DSLR yang berwarna hitam.


Rabu, 03 Mei 2017

Mencari Pecahan Koin Perak yang Ideal



Sebagaimana telah dijelaskan dalam tulisan sebelumnya, saat ini saya sedang rajin-rajinnya mengoleksi silver coins atau koin perak dari mancanegara. Ada beberapa tujuan mengapa orang memilih untuk berinvestasi dalam bentuk emas, antara lain alasan pertama sebagai investasi, kedua sebagai portofolio atau hedging jika suatu saat terjadi inflasi besar-besaran, dan yang ketiga adalah karena survival purposes, yaitu untuk menghadapi the worst case scenario.

Tujuan utama saya membeli koin perak adalah karena alasan yang ketiga ini yaitu survival purposes. Maksudnya begini, ada sebagian orang –baik muslim maupun non-muslim- yang percaya bahwa suatu saat nanti bisa saja terjadi chaos yang melumpuhkan perekonomian bahkan melumpuhkan negara. Pada saat itu, uang kertas tidak akan laku lagi, dan orang akan kembali melakukan barter atau yang sejenisnya dalam bertransaksi. Nah, koin perak merupakan sarana yang paling tepat dalam menghadapi skenario terburuk ini. Karena, selain koin perak memang pada awalnya digunakan sebagai mata uang dalam perniagaan, ia juga lebih liquid daripada koin emas. Misalnya saja, kita tidak mungkin membeli makanan harian kita dengan menggunakan 1 koin emas yang nilainya sekitar 2 jutaan. Yang paling masuk akal adalah kita menggunakan koin perak yang nilainya berkisar antara puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah (nilainya tergantung pecahan koin perak itu sendiri dan menggunakan kurs saat ini).
Nah, pertanyaan saya selanjutnya adalah pecahan koin perak berapakah yang ideal?
Di pasaran terdapat sejumlah satuan silver coins, antara lain 1/10 troy oz, ¼ oz, ½ oz, 1oz, 2 oz, 5 oz hingga 1 kilo. Tentu saja kita tidak mungkin membeli kebutuhan harian dengan menggunakan koin perak ukuran 5 oz atau 1 kilo. Kita membutuhkan satuan yang lebih kecil daripada itu.
Satuan koin perak standar di dunia internasional adalah 1 troy oz atau sekitar 31,103 gram, dimana harga sebuah koin 1 oz tersebut sekitar 20~an dollar atau sekitar 200-300 ribu rupiah. Untuk di luar negeri seperti di US dan Australia, uang $20 dollar sudah pas untuk membeli katakanlah setengah atau seekor ayam bakar. Waktu saya kuliah di Australia, harga standar sebuah kebab adalah sekitar 8 hingga 9 AUD. Sehingga uang 20 dollar sepertinya sudah pas untuk membeli dua porsi makanan (untuk pasangan atau keluarga). Namun bagaimana di Indonesia? Di Indonesia, nilai sebesar 200-300 ribu rupiah masih terlalu besar untuk membeli makanan, bahkan untuk satu keluarga. Untuk itu, kita memerlukan pecahan yang lebih kecil daripada 1 oz sehingga jika the worst case scenario benar-benar terjadi, kita sudah bisa langsung membeli makanan dengan uang pas, tanpa si penjual kerepotan mencari kembalian. Untuk saat ini saya asumsikan bahwa harga seporsi makanan di Indonesia adalah berkisar antara 20 ribu hingga 100 ribu rupiah.

Idealnya, kita memiliki koin perak dalam pecahan kecil agar nantinya kita tidak perlu merepotkan si penjual dalam mencari kembalian jika scenario buruk memang benar-benar terjadi. Seperempat troy oz koin perak secara sepintas merupakan pilihan yang menarik. Saya sendiri pada awalnya ingin membeli sejumlah koin yang cukup banyak dalam pecahan ¼ troy oz ini. Namun belakangan saya baru menyadari bahwa terdapat dua permasalahan terkait pecahan ¼ oz ini. Masalah pertama adalah, semakin kecil pecahan suatu koin maka semakin besar biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat koin tersebut. Termasuk pecahan ¼ oz ini yang harganya relative mahal. Misalnya, jika 1 oz koin perak harganya adalah 20 dollar, maka pecahan ¼ oz koin perak harganya bukan 5 dollar melainkan 7 hingga 9 dollar. Tentu saja ini merugikan kita sebagai konsumen. Masalah kedua adalah ukuran koin perak yang kecil. Pada hari ini saya baru saja menerima pesanan saya berupa 5 koin perak Noah’s Ark ukuran ¼ oz dan ternyata ukurannya menurut saya terlalu kecil, atau setidaknya lebih kecil dari yang saya harapkan. Diameternya 2 cm pas. Sulit bagi saya untuk membaca inskripsi yang ada di koin tersebut, sehingga saya kurang bisa menikmati keindahan yang terdapat dalam koin perak ukuran ¼ oz tsb. Saya tidak bisa membayangkan betapa kecilnya koin ukuran 1/10 oz dan betapa sulitnya membuat koin kecil tsb.

Setengah troy oz koin perak nampaknya merupakan jalan tengah antara standar 1 oz dan pecahan ¼ oz. Nilai ½ oz koin perak tidak terlalu besar, sekitar 10~an dollar atau sekitar seratus ribu rupiah, namun ukuran koin tsb tidak terlalu kecil seperti koin ¼ oz. Sejauh ini saya sudah memesan beberapa jenis koin ½ oz ini, sebut saja misalnya Tiger Shark dan Koala dari Australia, Mexican Libertad, serta Somalian Elephant. Walaupun belum ada satu pun koin ukuran ½ oz yang sudah saya terima, namun saya punya feeling bahwa koin pecahan ½ oz ini cukup ideal untuk membeli kebutuhan sehari-hari di masa mendatang.

Jumat, 21 April 2017

My First Silver Coins, Koin Perak Pertamaku

Sudah beberapa tahun  sejak saya pertama kali membaca artikel mengenai gerakan sebagian umat Islam yang ingin kembali menggunakan uang dinar (emas) dan dirham (perak) dalam bermuamalah. Intinya, sebagian umat Islam merasakan pentingnya untuk kembali menggunakan mata uang emas (dinar) dan perak (dirham) dalam bertransaksi sehari-hari. Salah satu kelebihan mata uang emas adalah, ia stabil, tidak mengenal depresiasi, dan tidak terpengaruh oleh inflasi (atau deflasi) sebagaimana halnya uang kertas. Misalnya, jika kita menggunakan uang kertas, dua puluh tahun yang lalu dengan uang seribu rupiah kita sudah bisa makan di warung tegal, namun sekarang minimal kita harus menyiapkan uang senilai sepuluh ribu hingga dua puluh ribu rupiah untuk bisa makan di warteg. Hal ini tidak berlaku dengan uang emas yang nilainya selalu stabil dari waktu ke waktu. Hal ini dapat dibuktikan dalam sebuah kisah yang diriwayatkan dalam kitab hadits. Alkisah, Nabi memberikan satu dinar kepada Urwa untuk membeli  domba untuk beliau.  Urwa membeli dua ekor domba untuk beliau dengan uang tersebut. Kemudian dia menjual satu ekor domba seharga satu dinar, dan membawa satu dinar tersebut bersama satu ekor dombanya lainnya kepada Nabi.
Poin yang ingin disampaikan pada kisah di atas adalah bahwa pada zaman Nabi, harga seekor domba (atau kambing) itu berkisar antara setengah dinar hingga satu dinar. Dan kalau kita bandingkan dengan harga sekarang, ternyata harga tersebut tidak jauh berbeda. Dengan menggunakan asumsi bahwa satu dinar ekuivalen dengan 4.25 gram emas dan harga 1 gram emas sekitar 500.000 rupiah, maka akan kita dapatkan bahwa satu dinar kira-kira senilai dua jutaan, dan ternyata harga seekor kambing saat ini ya sekitar itu juga.

Apalagi sebagian dari mereka mengetengahkan hadits (yang saya tidak tahu sahih atau daif) mengenai keutamaan dinar dan dirham, misalnya:
Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Dinar (emas) dan dirham (perak) adalah stempel Allah di muka bumi-Nya, barangsiapa yang datang dengan mempergunakan stempel tuhannya, maka akan dicukupi semua kebutuhannya” (Hadits Riwayat Imam Ath-Thabrani)

"Akan datang suatu masa pada umat manusia, dimana pada saat itu orang yang tidak memiliki kuning (emas) dan putih (perak), dia tidak akan mendapatkan kemudahan dalam kehidupan." (HR. ath-Thabarani).

Abu Bakar ibnu Abi Maryam meriwayatkan bahwa beliau mendengar Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ”Masanya akan tiba pada umat manusia, ketika tidak ada apapun yang berguna selain dinar dan dirham.” (Musnad Imam Ahmad Ibn Hanbal).

“Pada akhir zaman, manusia di masa itu semestinya memiliki dirham-dirham dan dinar-dinar untuk menegakkan urusan agamanya dan dunianya” (Hadits riwayat Imam Al-Tabrani sebagaimana terdapat dalam kitab Jami’u As-Saghir karya Imam As-Suyuti)

Terlepas apakah hadits di atas tersebut sahih atau tidak, saya merasakan bahwa tidak ada salahnya jika seandainya kita memiliki harta berlebih, kita menginvestasikannya dalam bentuk [uang] emas atau perak, karena harga emas dan perak yang cenderung stabil. Apalagi sejak saya menonton video di youtube tentang ceramah dari Ustad Zulkifli bahwa dunia ini sudah diambang akhir zaman. Dan menurut ustad Zulkifli, pada akhir zaman nanti, diperkirakan teknologi sudah tidak dapat dipergunakan lagi, dan kehidupan manusia akan kembali ke zaman primitif. Misalnya perang pada akhir zaman nanti tidak lagi menggunakan senjata nuklir atau senapan dan pistol, melainkan kembali menggunakan pedang.
Demikian halnya dalam bertransaksi. Jika apa yang dikatakan oleh ustad Zulkifli benar bahwa kehidupan manusia akan kembali ke zaman primitif, maka tentu saja uang kertas tidak akan laku lagi. Apalagi kartu kredit, paypal dan uang virtual seperti bitcoin. Jika hal ini memang benar-benar terjadi, tentunya manusia akan kembali menggunakan emas dan perak dalam bertransaksi.

Investasi dalam Emas atau Perak?
Jika anda membaca judul artikel ini, tentunya anda sudah bisa menebak, mana yang saya pilih, apakah investasi dalam bentuk [koin] emas atau dalam bentuk [koin] perak.
Ada berbagai hal yang membuat saya memilih untuk menginvestasikan uang saya dalam bentuk [koin] perak daripada emas.
Pertama, nilai perak saat ini jauh dibawah nilai semestinya (undervalued). Jika di jaman dulu mungkin harga 1 gram emas kurang lebih hanya sepuluh hingga 12 kali harga 1 gram perak, maka saat ini harga satu gram emas sekitar 50x hingga 70x harga 1 gram perak. Kenapa harga perak bisa merosot jauh dibanding dengan harga perak di zaman Nabi? Hal ini terkait dengan alasan kedua.
Alasan kedua kenapa saya memilih untuk berinvestasi dalam bentuk perak adalah karena jika memang benar terjadi zaman huru-hara atau zaman fitnah, atau masa kekacauan (atau apapun namanya), yaitu dimana kehidupan manusia akan kembali ke zaman primitif, maka uang perak-lah yang akan lebih banyak digunakan dalam bertransaksi sehari-hari, seperti membeli makanan, pakaian dll.
Misalnya, tidak mungkin kita membeli sepotong ayam bakar dengan membayar menggunakan uang dinar yang nilainya sekitar 2 juta rupiah. Yang paling realistis adalah jika kita membayarnya dengan koin perak yang nilainya “hanya” sekitar  30 ribu perak hingga 200 ribu rupiah (nilai saat ini).
Sementara uang emas hanya akan dipakai sesekali saja, yaitu untuk membeli barang-barang yang cukup mahal harganya, seperti membeli kambing, sapi, kuda, dll. Sedangkan untuk transaksi harian, tentu saja yang akan lebih sering dipakai adalah uang perak, bukan uang emas.
Hal ini juga bisa kita lihat di dalam Alkitab, dimana, dalam berbagai ayat Alkitab disebutkan berbagai hal yang harus dibayar dengan menggunakan syikal (shekel) perak. Misalnya:

“Tetapi jika lembu itu menanduk seorang budak laki-laki atau perempuan, maka pemiliknya harus membayar tiga puluh syikal  perak kepada tuan budak itu, dan lembu itu harus dilempari mati dengan batu.” (Kel 21:32)

” Inilah yang harus dipersembahkan tiap-tiap orang yang akan termasuk orang-orang yang terdaftar itu: setengah syikal, ditimbang menurut syikal   kudus--syikal ini dua puluh gera beratnya--; setengah syikal itulah persembahan khusus kepada TUHAN.” (Kel 30:13)

“… maka tentang nilai bagi orang laki-laki dari yang berumur dua puluh tahun sampai yang berumur enam puluh tahun, nilai itu harus lima puluh syikal perak, ditimbang menurut syikal   kudus.” (Im 27:3)

“Jikalau itu mengenai seorang dari yang berumur satu bulan sampai yang berumur lima tahun, maka bagi laki-laki nilai itu harus lima syikal    perak, dan bagi perempuan tiga syikal perak.” (Im 27:6)
“Mengenai uang tebusannya, dari sejak berumur satu bulan  haruslah kautebus menurut nilainya, yakni lima syikal  perak ditimbang menurut syikal   kudus … “ (Bil 18:16)

“… mendenda dia seratus syikal perak dan memberikan perak itu kepada ayah si gadis--karena laki-laki itu telah membusukkan nama seorang perawan Israel. Perempuan itu haruslah tetap menjadi isterinya; selama hidupnya tidak boleh laki-laki itu menyuruh dia pergi.” (Ul 22:19)

“maka haruslah laki-laki yang sudah tidur dengan gadis itu memberikan lima puluh syikal perak kepada ayah gadis itu, dan gadis itu haruslah menjadi isterinya, sebab laki-laki itu telah memperkosa dia; selama hidupnya tidak boleh laki-laki itu menyuruh dia pergi.” (Ul 22:29)

Dan masih banyak lagi. Intinya, banyak transaksi di dalam Alkitab yang harus dibayar dengan menggunakan [mata uang] syikal perak. [FYI: konon, mitsqal dalam Islam memiliki akar kata yang sama dengan syikal atau shekel)

Nah, karena pada masa dulu, uang perak-lah yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bukannya uang emas, maka tentunya permintaan akan uang perak di masyarakat sangat tinggi, dan hal inilah yang menyebabkan nilai  uang perak pada saat itu harganya mencapai sekitar sepersepuluh atau seperduabelas dari uang emas; tidak seperti sekarang yang harganya hanya sekitar seperlimapuluh dari uang emas.
Jadi, fungsi utama uang perak sebenarnya adalah untuk melakukan transaksi harian. Inilah yang menyebabkan harga perak di masa lalu tinggi, karena ia banyak dicari. Pada zaman modern, fungsi uang perak sebagai alat pembayaran dalam transaksi sehari-hari sudah digantikan oleh uang kertas, sehingga permintaan akan perak turun drastis, akibatnya harga perak pun merosot jika dibandingkan beberapa abad lalu.
Alasan ketiga dan keempat adalah karena dana saya yang terbatas dan ukuran uang itu sendiri.
Berhubung dana saya terbatas, hanya beberapa juta saja (tidak sampai puluhan juta), maka perak-lah yang lebih cocok untuk saya. Katakanlah, saya memiliki kelebihan uang Rp 2.500.000,-. Dengan dana sekitar itu, saya hanya bisa mendapatkan 1 dinar keluaran PT Antam seberat 4,25 gram atau Gold Coin ukuran 1/10 oz (3,1 gram) yang diameternya sangat kecil, sehingga uang tsb relatif mudah hilang. Lain halnya jika saya membeli koin perak. Dengan uang senilai yang sama, saya bisa membeli beberapa keping koin perak seberat 1 oz yang ukurannya jauh lebih besar daripada koin emas 1/10 oz.
Nah, itulah beberapa alasan kenapa saya memilih untuk berinvestasi dalam koin perak ketimbang emas.
Namun demikian perlu saya sampaikan salah satu kekurangan berinvestasi di uang perak. Salah satu kelemahan perak murni 99,9% adalah ia merupakan jenis logam lunak dan relatif gampang kotor, sehingga ia memerlukan perawatan yang cukup memadai. Perak relatif lebih mudah menjadi kusam atau bahkan menjadi hitam jika dibandingkan emas.

Silver coin atau koin dirham buatan PT Antam?
Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah sebaiknya kita berinvestasi dalam silver coin internasional (seperti American Eagle, Maple Leaf, Austrian Philharmonic, Libertad, dll) ataukah dalam bentuk koin dirham keluaran PT Antam? Terus terang, saya pribadi memilih untuk membeli koin perak internasional seperti Silver Eagle atau Maple Leaf.
Kenapa saya memilih untuk membeli koin perak international bukannya membeli uang dirham yang dikeluarkan oleh PT Antam?
Ada sejumlah alasan yang membuat saya memilih untuk membeli koin perak internasional ketimbang membeli uang dirham lokal keluaran PT Antam.
Pertama karena koin international memiliki standar yang hampir seragam di seluruh dunia, yaitu menggunakan satuan troy ounce, yaitu sekitar 31,1 gram. Negara-negara dari berbagai belahan penjuru dunia, sebut saja misalnya Amerika Serikat, Canada, Mexico, Australia, New Zealand, Inggris, Austria, Armenia, dan Somalia; menggunakan standar yang sama, yaitu troy ounce.
 Sedangkan uang dirham PT Antam menggunakan standar sesuai fikih yang biasa kita kenal, yaitu 1 dirham = 2,975 gram. Perlu diketahui bahwa ketentuan bahwa 1 dirham = 2,975 gram bukanlah satu-satunya standar yang digunakan di dalam dunia Islam. Karena selain PT Antam, ada juga pihak lain yang menerbitkan uang dirham dengan standar yang berbeda, misalnya Islamic Mint Nusantara, yang menetapkan bahwa 1 dirham sama dengan 3.11 gram yang kurang lebih sama dengan ukuran 1/10 oz. Namun sayangnya ketika saya ingin membeli uang dirham keluaran IMN, saya tidak/belum dapat menemukan situs yang menjual dirham produksi IMN tsb.
Alasan kedua, terus terang saya meragukan ketentuan yang menyatakan bahwa berat 1 dirham perak = 2,975 gram. Kalau saya baca-baca lebih lanjut, ketentuan tersebut tidak berasal Nabi Muhammad, melainkan konon berasal dari khalifah Umar bin Khattab, atau bahkan mungkin baru ditetapkan pada zaman dinasti Umayah yaitu pada masa pemerintahan Abdul Malik. Jujur saja, saya lebih percaya keterangan di Wikipedia daripada kitab fikih yang menyatakan bahwa 1 dirham = 2,975 gram. Apa kata Wikipedia? The Arabic unit of currency known as dirham (in the Arabic language, درهم), known from pre-Islamic times and afterwards, inherited its name from the drachma or didrachm (δίδραχμον, 2 drachmae).
Menurut Wikipedia, dirham berasal dari bahasa Yunani drachma, atau mungkin juga dari didrachm (yang berarti dua drachma), dimana satu drachma sendiri beratnya sekitar 4,3 gram, sehingga 1 didrachm sekitar 8,6 gram. Jika satu dirham beratnya sama dengan satu drachma, semestinya berat satu dirham perak kurang lebih sama dengan berat satu gram emas.
Alasan ketiga adalah karena uang dirham keluaran PT Antam “hanya” memiliki kadar perak sekitar 92 koma sekian persen, sedangkan koin perak internasional seperti American Eagle memiliki kadar perak hingga 99,9%. Canadian Silver Maple bahkan memiliki kadar perak hingga 99,99%.
Alasan keempat, last but not least, yaitu karena surah Al Kahfi 18:19. Lho apa hubungannya?
Sebagaimana kita ketahui, surah Al Kahfi disunnahkan untuk dibaca setiap hari Jumat. Bukan itu saja, menurut hadits, permulaan surah Al Kahfi perlu dihafal untuk melindungi diri kita dari fitnah Dajjal. Kalau yang saya tangkap dari hadits tersebut ialah bahwa petunjuk yang ada di permulaan surah Al Kahfi, khususnya kisah mengenai Ashabul Kahfi, perlu kita cermati. Misalnya saja, ketika nanti Dajjal sudah muncul, kita perlu mencari perlindungan ke tempat-tempat yang sepi seperti pegunungan, atau berlindung di sebuah gua. Kita pun juga harus menyiapkan bekal uang (untuk membeli makanan dsb) selama masa tersebut. Dan bekal yang paling cocok ketika masa fitnah tersebut berlangsung adalah koin perak!
Di dalam surah Al Kahfi ayat 19 tertulis: ”… Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu …” (QS 18:19)
Saya tidak mengerti  bahasa Arab, tetapi saya mengerti bahasa Inggris. Dalam beberapa terjemahan Al Quran berbahasa Inggris, kata uang perak di dalam ayat tersebut diterjemahkan sebagai silver coin (dalam bentuk tunggal). Kemudian kalau kita cermati lagi bahwa dengan menggunakan satu keping uang perak, para pemuda ashabul kahfi berharap dapat membeli makanan yang cukup untuk 5-7 orang.
Kalau kita menggunakan uang dirham, kita akan ketahui bahwa nilai uang dirham itu sekitar 3 gram X 11000 rupiah (harga beli perak), sehingga nilai uang satu dirham itu sekitar 33.000 rupiah. Padahal dengan uang 33.000 kita tidak dapat berharap dapat membeli makanan yang cukup untuk 5-7 orang.
Namun, kalau kita asumsikan bahwa mereka menggunakan uang perak Yunani, dimana pecahan uang perak Yunani antara lain mengenal didrachm (8.6 gram), tetradrachm (17 gram), dan dekadrachma (43 gram), dan jika kita mengasumsikan bahwa uang yang dibawa oleh pemuda kahfi itu adalah dekadrakhma, maka semuanya menjadi masuk akal, karena 1 dekadrakhma itu harganya sekitar 400.000 dan itu sudah lebih dari cukup untuk membeli makanan untuk sejumlah lima hingga tujuh orang.

Koin Perakku
Tadinya saya berniat untuk membeli silver coins dari apmex.com. Namun sayangnya, ketika saya tanyakan kepada pihak apmex, ternyata apmex tidak dapat melakukan pengiriman ke Indonesia (walaupun mereka bisa mengirimkan ke Malaysia dan Australia). Karena saking ngebetnya saya ingin segera memiliki koin perak, akhirnya terpaksalah saya mencarinya di … ebay. Sebelumnya saya tidak pernah menggunakan situs ebay ini, dan sebelumnya saya tidak pernah berminat untuk menggunakan situs ebay ini. Namun, setelah saya browsing kesana kemari, nampaknya ebay-lah tempat yang tepat bagi saya untuk membeli silver coins. (Ada salah satu situs di Australia yang menjual silver coin dari Perth Mint, namun untuk bisa membeli dari situs tersebut kita harus melampirkan berbagai persyaratan seperti fotokopi paspor atau KTP atau SIM yang dilegalisir oleh notaris!. Yaelah, masak untuk membeli koin perak kita harus ke notaris dulu sih….)

Akhirnya, sejak beberapa hari yang lalu, saya “terpaksa” buat akun paypal dan akun ebay (pembayaran die bay harus menggunakan paypal). Dan sejak itu, saya jadi rajin membrowsing ebay untuk mencari-cari koin perak yang saya inginkan. Tanpa terasa, sudah belasan kali saya order dari ebay (dan membuat tagihan kartu kredit saya membengkak, hehehe). Sejauh ini, saya sudah memesan American Eagle, Canadian Maple Leaf, Austrian Philharmonic, Somalian Elephant, Noah’s Ark dari Armenia dan sebagainya. Namun, hingga hari ini koin saya belum ada yang datang.
Namun, yang jelas, koin perak yang pertama kali saya pesan adalah 2 oz Somalian Elephant, dengan alasan karena koin tersebut lebih besar dari koin standar 1 oz dan Somalian Elephant memiliki kadar perak 99,99% atau setara dengan Maple Leaf dari Kanada. Sayangnya, Maple Leaf tidak tersedia dalam ukuran 2 oz, sehingga saya terpaksa melirik merek lain yang menyediakan ukuran 2 oz, dan Somalian Elephant adalah pilihan saya.
Alasan saya membeli koin perak 2 oz adalah karena saya ingin memastikan bahwa koin perak tersebut dapat cukup untuk membeli makanan untuk 5 atau bahkan 7 orang, dimanapun saya berada, entah itu di Indonesia, di Arab, atau di Australia atau Amerika sekalipun. (Nilai 2 oz perak kurang lebih sekitar $40, dan itu sudah cukup untuk membeli dua ekor ayam bakar).